PIFAF 2017

Kamis, 21 April 2016

POLEWALITERKINI.CPM - Sore menjelang malam tepatnya jam 16.30, mahasiswa sulawesi barat yang tergabung dalam komunitas Mandar berkumpul dikediaman seorang seniman Mandar yakni Bang Anto Aziz dekat kali Gajah Wong. Bang Anto Aziz ini salah satu senior atau orang tua kami di Yogyakarta. Beliau  adalah penggagas komunitas rumah Mandar. Bang Anto ini di juluki Pa’bijaga biring lembang  soalnya dia beraktifitas kesenian di pinggir kali yang ada di belakang rumahnya, seperti halnya melatih anak – anak komunitas rumah Mandar maupun anak – anak setempat.
Tujuan sebenarnya mahasiswa sulawesi barat ini berkunjung ke kediaman bang Anto Azis adalah untuk persiapan pementasan BEDOG yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2016, di Kaliabu Sleman Yogyakarta. Pementasan ini di ikuti 27 sanggar di berbagai daerah yang ada di Yogyakarta. Pementasan kali ini dari KORMA sendiri akan menampilkan teater musical.
Tetapi sebelum memulai latihan perdana biasanya bang Anto mengisi dengan materi atau diajak berdiskusi untuk gambaran pementasan dan memberi pemahaman tentang Budaya Mandar itu seperti apa. Karena masih banyak teman – teman yang belum memahami betul budaya Mandar itu apa sebenarnya, dengan memahami budaya Mandar itu akan mempermudah untuk bisa berekspresi dalam pementasan tutur sang Maestro.
Bang Anto juga mempertegas bahwa Mandar itu dari Paku sampai Suremana, meskipun didalamnya itu berbeda bahasa tetapi karakter tidak bisa dipungkiri yakni, orang Mandar itu emosional, pemalu,  penyayang, dan memiliki dedikasi tinggi. Kareana pemahaman dari sang Maestro seni itu memerlukan keindahan sebagai jembatan penyaluran emosional sehingga dapat ditonton dengan nyamanya itulah karya seni. Orang – orang mandar itu memiliki bakat seni yang luar biasa dikarenakan emosional orang Mandar sangant dahsyat tinggal di kontol dengan estetika jadilah karya seni tandasnya Bang Anto.
Beliau juga mengatakan Sulawesi Barat itu cuma letak Geografis sedangkan Mandar itu adalah Budaya atau Nilai yang sudah disepakati oleh nenek moyang kita yakni saling menguatkan satu sama lain. Orang yang ada di wilayah Sulawesi Barat adalah orang Mandar, semisal orang Mandar Mamuju, Mandar Polewali, Mandar Kaeli, Mandar Majene , Mandar Pattae dan lain – lain.   
Sehingga  di dalam masyarakat Sulawesi Barat dan orang yang tidak mengakui dirinya orang Mandar itu berarti kesombongan yang tidak bisa ditolerir dan kesadaran hidupnya bisa dikatakan tidak ada. Karena Mandar yang berproses dalam dirinya sejak keluar dari rahim Ibu yang menggunakan proses waktu yang begitu panjang, sehingga menghasilkan kesiasiaan. Idealnya sebagai orang Mandar melahirkan rasa syukur bukan kesombongan karena Mandar telah mengajarinya untuk hidup bermasyarakat tandas Bang Anto.  
Sudah selayaknya Anak –anak Mandar itu sebagai rasa syukur mengurusi Mandar, mengurusi kebudayaan Mandar, terutama mahasiswa Mandar yang ada di Yogyakarta. Masalahnya kalau kita mengurusi Mandar berarti kita mengurusi naluri dan jiwa kita. Karena naluri dan jiwa kita berproses di tanah Mandar, kalau kita abaikan Mandar berarti sama halnya melupakan diri kita sendiri. Suatu saat setelah kita kuliah di Jogja karakter kita sebagai orang Mandar perlu dipertanyakan lagi. 
Komunitas Rumah Mandar memiliki makna yang tersirat yakni Rumah dan Mandar. Dimana Rumah ini adalah sebagai tempat berteduh, tempat berkeluh kesah, tempat menikmati suasana kekeluargaan setelah seharian para mahasiswa keluar mencari ilmu, yang notaben secara budaya yang sangat berbeda yakni Jogja otomatis melahirkan ketegangan – ketegangan. Sehingga anak – anak Mandar membutuhkan Rumah yang bisa menghilangkan ketegangan – ketegangan budaya. Maka dari itu kembali ke rumah bisa berekspresi sesuai dengan budaya Mandar itu sendiri lagu tenggang – tenggang lopi mengalung, sayang – sayang dengan merdunya, buras kita santap dengan bau piapi dengan nyamanya itulah khas Rumah Mandar.
Penulis  :  Ilham Muslimin
Kontak   :  082225322616
Email      :   Mandarhamka@gmail.com  

PolewaliTerkini.Net