PIFAF 2017

Kamis, 09 Juni 2016

Mujahid Lc. MA
POLEWALITERKINI.COM - Kultum singkat malam ke 5 tarawih ramadhan 1437 H di masjid agung syuhada, dibawakan salah satu dosen IAI DDI Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Mujahid Lc. MA. Kamis malam, 9 Juni 2016.
Dalam kultum ceramah singkatnya. Mujahid Lc. MA menyampaikan kepada Jamaah tarawih pentingnya seseorang "MENJAGA LIDAH" dari perbuatan dosa yang bisa mengurangi nilai dalam menjalankan ibadah puasa bulan ini.
Dalam Hadist Qudsi Yang Menjelaskan Tentang Puasa. Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman :
“seluruh amalan anak adam untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untukku, dan aku sendiri yang akan memberikan balasannya. Puasa itu perisai. Apabila seseorang diantara kamu berpuasa, janganlah dia memaki-maki, mengeluarkan kata-kata keji dan janganlah dia membuat kegaduhan. Jika dia dicaci oleh seseorang, atau dibunuh (hendak dibunuh), hendaklah dia katakan : ‘saya berpuasa’. ” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
Perintah Allah ini mewajibkan bagi orang yang berpuasa “JAGALAH LIDAH” kata Mujahid Lc. MA, terkadang dalam menjalani kehidupan manusia menganggap sepeleh dan berkesan tak ada yang dirugikan “Saya mau bicara terserah saya, tapi kalau saya memukul orang, tendang orang, kena’ hukum.”
Kesannya bicara ini lanjut Mujahid, adalah sesuatu yang biasa saja, padahal kesempurnaan puasa kita itu erat kaitannya dengan menjaga “LIDAH”.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi "Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, yaitu mulut dan kemaluan." (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan di-shahih-kannya).
Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya Surga."(HR. Al-Bukhari).
Sehingga mari kita menggunakan bulan puasa ini untuk tidak memandang enteng perkara puasa, akan tetapi tidak menjaga lidah padahal hal ini menjadi larangan ALLAH SWT. Memang definisi puasa itu adalah menjaga segala yang membatalkan puasa, makan, minum, berhubungan suami istri mulai pagi hingga terbenam matahari.
Namun para Ulama setelah membaca Hadist ini, sebagian mengatakan siapa yang tak bisa menjaga “LIDANYA” akan mengurangi nilai kesempurnaan puasa, sehingga Nabi mengangkat contoh dari lidah karena puasa itu adalah perisai selama kita tak menghancurkan tamen itu sendiri hanya persoalan “LIDAH dan GHIBAH atau membuka Aib orang lain!.”
Diantara perkara menjaga lidah kata Mujahid yakni, jangan berbohong baik secara serius ataupun bermain, sebab Nabi tidak pernah membedakan antara dusta dan bercanda, sehingga Nabi bersabda “tinggalkan dusta, hati-hati dengan dusta, karena dusta itu akan menggiring dan mendatangkan dosa-dosa lainnya.” Baik kepada anak ke orang tua, guru kepada muridnya dan sebaliknya.
Selain itu Mujahid Lc. MA juga menyampaikan kepada Jamaah tentang perkara GHIBAH yakni, menceritakan ‘aib orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan ghibah. Karena ghibah artinya membicarakan ‘aib orang lain sedangkan ia tidak ada di saat pembicaraan. ‘Aib yang dibicarakan tersebut, ia tidak suka diketahui oleh orang lain.
firman Allah Ta’ala,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah/mencegah dengan tangannya (kekuasaan) jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (secara lisan), dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya (merasakan tidak senang dan tidak setuju). Dan itu adalah selemah-lemah Iman". - [Diriwayatkan oleh Imam Muslim #49]
Sehingga sangat dilarang menyebut-nyebut saudaramu yang dia benci, seperti dia hitam, jelek, bodoh, pincang, juling matanya dan sebagainya. Meski apa yang kamu sebut itu benar dan kalau yang disebut itu bohong tentu anda telah mengadangadakan sesuatu dan menghancurkan kehormatan orang lain.
Kata Mujahid jika apa yang dilakukan adalah salah, ada cara tertentu untuk menyampaikan nasehat kepadanya, diwaktu yang tepat, dengan cara yang baik dan jika disampaikan kira-kira bisa berubah. Namun perkara GHIBAH mengumbar cerita kesana kemari, tidak tau tujuannya apa dan semakin merusak kehormatan orang lain.
Diakhir Kultum ceramah singkat ramdhan. Mujahid mengajak jamaah agar tak saling mengibah dan mewaspadai penyakit itu, sebab perkara ini bisa mengurangi nilai ibadah puasa yang kita laksanakan, selain itu Ghibah adalah perkara dosa Besar di mata Allah SWT.
Laporan  :  Sukriwandi







PolewaliTerkini.Net