SIAPA CALON BUPATI POLMAN 2018

Nenek Rukia Bersama Suaminya
Tampak Foto Belakang Rumah  Nenek Rukiah
Foto Tampak Dari Samping Rumah Nenek Rukiah
Tampak Kepala Desa Kuajang Bersama Wartawan
di Rumah Nenek Kallo
Wartawan Mengunjungi Rumah Nenek Kallo
Foto Tampak Belakang Rumah Nenek Kallo
POLEWALITERKINI.NET – Kehidupan 2 Nenek yang sudah tua rentah sangat memilukan hati, betapa tidak wanita lanjut usia, Nenek Rukiah (65 tahun) dan Nenek Kallo (60) masih menjadi tulang punggung  rumah  tangga menafkahi para suaminya yang lama terbaring sakit.

Tergolong Fakir miskin di Desanya itu. Borahima (75 Tahun) dan Rukiah (65 Tahun) Pasangan suami istri ini bertahan hidup dengan berjualan sapu lidi dan terdata sudah kurang lebih 20 tahun bermukim di Dusun Pakkandoang, Desa Kuajang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar.

Lansia miskin ini tinggal berdua di rumah reotnya yang tak layak huni dengan ukuran 3 x 2 meter berlantai tanah beratapkan daun nipa yang sudah dimakan rayap. Rukiah yang ditemui di gubuk reotnya. Selasa (14/03/2017)  mengaku berasal dari Kabupaten  Majene dan sudah puluhan tahun tinggal di Pakkandoang.

"Sudah lama mi saya tinggal disini, dulu waktu bapa (Suami) masih sehat dia bekerja di kebun milik orang, pernah juga kerja empangnya orang, tidak ada tanah ataupun kebun sendiri, yang ditempati sekarang ini saja menumpang punya orang kita mau apa sudah nasib seperti ini jadi harus rela dan ikhlas menjalani kehidupan ini." Ujar Rukiah dengan wajah sedih sambil meneteskan air mata di depan para wartawan yang mengunjunginya.

Pasangan lansia Borahima dan Rukiah dikaruniai 2 orang anak, namun mereka berdua lebih memilih tinggal di gubuk mereka sendiri lantaran tidak ingin merepotkan anak-anaknya, Borahima yang sudah puluhan tahun sakit hanya mampu berbaring dan duduk saja diatas ranjang yang terbuat dari bambu.

Meski dia mengaku fisiknya sudah tak seperti dulu, namun kondisi memaksa Rukiah menjadi tulang punggung keluarga untuk bertahan hidup dan mencari makan dengan membuat sapu lidi dan hasil dari penjualan itu untuk membeli beras.

Untuk mendapatkan bahan sapu lidi, dirinya menunggu warga yang panen kelapa di sekitar tempat tinggalnya. Sapu yang ia buat itu juga tidak banyak diusianya yang rentah dan tubuhnya yang sudah mulai sakit, ia hanya mampu membuat 2 sampai 5 sapu lidi saja.

Sapu lidi yang saya buat itu dibawa kepasar, untuk dijual  satu ikat sapu lidi biasa dijual dengan harga Rp 3000  dari hasil menjual sapu itu lah  digunakan untuk membeli beras dan keperluan dapur seadanya.” Katanya.

Karena uang hasil penjualan sapu juga tak mencukupi. Rukiah juga sangat bergantung pada bantuan beras raskin dari pemerintah, ia mendapat jatah 14 liter raskin per bulan sementara untuk bantuan lainnya Rukiah mengaku tidak pernah mendapatkan.

"Dapaki raskin lebih sepuluh liter itumi di masak setiap hari dicukup-cukupkan supaya bisa sampai satu bulan, tapi terkadang juga dibuat bubur supaya jadinya banyak meski perut  belum merasa kenyang, namun harus dicukupkan satu bulan kalau habis lagi raskin terpaksa harus makan ubi yang dicabut dari kebun tetangga.” Cerita Rukiah yang mendampingi suaminya yang tengah terbaring sakit.

Selain Borahima dan Rukiah, tak jauh dari rumahnya Salama (80 tahun) dan Kallo (60 tahun) juga bernasib sama dengan yang dialami Borahima dan Rukiah, Kallo juga menjadi tulang punggung di rumah panggung miliknya yang sudah terlihat miring, sehari-hari Kallo mengandalkan hidup dari memungut kelapa di kebun milik warga.

"Tidak ada pekerjaan pak, pungut-pungut saja kelapa kalau ada jatuh dikumpul, lagi kalau cukup  baru dijual, suami juga  sudah tidak bisa kerja karena sakit dan baru-baru juga keluar dari rumah sakit karena muntah darah." kata Kallo.

Kallo memiliki satu orang anak namun sudah beristri di Binuang, kini ia hanya tinggal berdua saja dengan suaminya, ia juga mengandalkan raskin sebagai makanan pokok, ia berharap pemerintah memberikan perhatian dan bantuan.

Ditempat sama, H. Muhammad Kades Kuajang yang berada ditempat pada saat itu menuturkan bahwa pemerintah tidak dapat berbuat banyak karena tanah tempat rumah Kallo ini bukan miliknya sehingga sangat sulit untuk dibantu BSPS, untuk bantuan raskin setiap bulan bisa kita berikan. Ucap Kepala Desa Kuajang. H. Muhammad.

Menyikapi hal ini Kepala Divisi Investigasi LBH – SULBAR. Sukriwandi S.H mengatakan, kewajiban Anak Memelihara Orang Tua Setelah Dewasa itu sangat jelas diatur dan jika anak tidak melaksanakan kewajiban pemeliharaan orang tua sesuai dengan Pasal 46 UU Perkawinan, dapatlah orang tua mengajukan gugatan ke pengadilan atas biaya pemeliharaan.

Selain itu pemerintah Kabupaten sudah membentuk Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Penduduk Lanjut Usia (Lansia) Daerah ini menyusul terbentuknya Peraturan Pemerintah (PP) dan Keppres Komnas Lansia untuk membantu pemerintah menyosialisasikan program kesejahteraan, perlindungan, advokasi, komunikasi, informasi dan edukasi.

Bahkan dalam Undang – undang mereka yang menelantarkan para lansia dan terbukti tidak memberikan perlindungan dan melakukan tindakan penyiksaan, maka diancam hukuman pidana dan denda.

Laporan  :  Erwin Setiawan

Editor      :  Z Ramadhana

0 komentar:

Post a Comment

PolewaliTerkini.Net

Berita Populer

loading...