SIAPA CALON BUPATI POLMAN 2018



PERINGATAN...! "Pasang CCTV sebelum terlambat..."

< (( RAMADHAN COME AGAIN..! )) >

06/04/17

Syarifah Nadzifah saat ditemui di kediaman orang tuanya
di Saleppa Majene (foto: egi/FMS)
POLEWALITERKINI.NET - Terlapor dugaan perselingkuhan yang tak lain istri H. Anthoni Hamdani (anggota DPRD Majene), Syarifah Nadzifah, telah memberikan keterangan pers kepada wartawan, Rabu (05/04/2017) malam. Demikian fokusmetrosulbar.com. Kamis (06/04/2017).

Ditemui di kediamannya di lingkungan Saleppa Majene, putri sulung S. Taswin K ini mengaku sedih dan malu saat melihat dan mendengar kabar tak sedap tentang dirinya. Selain itu, Ifah juga menceritakan banyak hal, termasuk ketika peristiwa pada Sabtu malam (1/4) lalu di Kabupaten Polewali Mandar.

Dimana sebelumnya, telah diberitakan bahwa dia (Ifah) telah dipergoki oleh suaminya sendiri (H.Anthoni) di sebuah kamar di Hotel Ratih Polman.
Lantas bagaimana tanggapan ibu dua anak ini atas kejadian itu? Berikut adalah kutipan wawancara Syarifah dengan fokusmetrosulbar.com.

Ibu sudah tahu ya pemberitaan soal penggerebekan anda di sebuah hotel di Polewali malam itu? Bagaimna tanggapannya?

Iya, saya tahu. Saya sedih dan sangat malu melihat semua berita dan komentar itu, karena tidak sesuai.

Jadi sebenarnya, bagaimana kronologi kejadian waktu itu, sampai ibu diberitakan telah digerebek?

Itu yang saya sayangkan, karena sebenarnya kejadiannya tidak begitu. Ini tidak bisa dikatakan penggerebekan. Saya juga tidak dipergoki. Pemberitaan di media itu sangat sepihak.

Lalu bagaimana kejadian yang sebenarnya?

Mulanya saya datang ke hotel, hari Sabtu sore. Memang sudah kebiasaan saya, kesana bawa anak­anak saya berenang setiap Minggu atau libur.

Disana kan ada kolam renangnya. Karena saya jauh, tinggal di Majene, maka saya biasanya ambil kamar. Jadi kalau berkali­kali kesana memang benar, tapi berkali­kali dengan laki­laki itu yang sangat keliru.

BACA : TERKAIT ISTRI ANGGOTA DPRD DILAPORKAN SELINGKUH : http://www.polewaliterkini.net/2017/04/terkait-istri-anggota-dprd-majene.html

Ifah lanjut menguraikan:

Sabtu sore saya tiba di sana (hotel Ratih), usai berenang anak saya mau istirahat. Saat itu saya mau belikan burger dulu untuk anak saya, tapi penjualnya di pantai, jadi saya mau ke pantai bertiga sama anak­anak. Saat di jalan (tak jauh dari halaman hotel) tiba­tiba saya dicegat, mobil saya dihalangi. Lalu saya diminta turun, katanya saya mau di bawa ke Polres. Saya tanya kenapa? Ada apa? Dia bilang ada suamimu di mobil (di mobil lain­red).

Siapa yang mencegat dan meminta ke Polres, pihak kepolisian?

Bukan. Mereka itu saya kenal. Iya saya kenal. Ada suami ipar saya, yang memang seorang polisi, namanya Daud. Tapi dia bukan polisi Polewali. Dia itu bertugas di Mamuju. Ada juga kakak ipar saya, kakaknya suami saya.

Terus selanjutnya bagaimana, setelah itu, langsung ke Polres?
Iya dia ambil alih mobil saya, dia bilang di mobil sana ada suamimu, saya mau dibawa ke kantor polisi katanya. Saat itu saya berontak, mau apa di Kantor Polisi, saya tidak salah. Saya tidak pakai narkoba, tidak apa dan saya tidak macam­macam. Tapi begitulah, mereka membawa saya ke Polres dengan anak­anak saya.

Ifah menceritakan bahwa ketika dirinya dicegat di jalan menuju pantai, dia tidak melihat suaminya, tapi kakak ipar perempuannya ada bersama suami dari iparnya itu. Ifah juga menyesalkan pemberitaan yang mengatakan dirinya digerebek di kamar hotel. "Kamar hotel mana? Mana bukti?," katanya bernada sedih. Apalagi dengan gambar ilustrasi yang berlebihan, katanya. Seolah dia sedang kepergok dengan laki­laki.

"Malam itu iparku mau ambil anak­anak saya, tapi mereka (anaknya­red) tidak ada yang mau. Memang mereka tidak akrab dengan anak saya," terangnya.
"Jadi saya tidak digerebek, tapi saya dihadang di jalan," lanjutnya.

Ketika di Polres, apakah suami anda ada di situ, dia ikut ke sana?

Saya tidak melihat. Saya hanya bertiga dengan dua anak saya. Tidak tahu dia dimana.

Terus bagaimana dengan teman ibu? (maksud wartawan adalah Suhaer). Ibu kan diberitakan bersama dengan seorang laki­laki dewasa, sebenarnya dia siapa? Apakah benar pernah bersama dengannya?

Dia itu keluarga saya. Iya keluarga dari bapak saya. Dia memang dekat dengan anak­anak saya, sangat akrab. Tapi saya tidak punya hubungan apa­apa dengan dia selain hubungan keluarga. Dia sering membantu saya. Bantu­bantu, antar koper dan lain­lain. Iya terserah orang mau bilang apa, itu hak mereka. Yang jelas begitulah faktanya. Orang juga bilang saya sama dengan dia, ada rekaman CCTV­nya. Iya adalah namanya juga hotel pasti ada CCTV­nya. Tapi mana buktinya saya selingkuh.

Lantas bagaimana ibu bisa dikabarkan telah berhubungan badan dengan dia, bahkan berkali­kali, katanya?

Itu yang saya sesalkan, beritanya sangat tidak sesuai. Memang waktu di­BAP Polisi waktu itu, saya ndak tau ya, sudah malas saya bicara, capek dan juga ngantuk. Banyangkan satu malam full tidak tidur. Malam minggu itu saya tidak tidur. Pagi sampai siang juga tidak tidur, saya full satu hari di Kantor Polisi. Lalu sorenya saya di­BAP. Seumur­umur saya tidak pernah di­BAP, bahkan saya tidak tahu apa itu BAP. Maka saya iyakan saja setiap pertayaan polisi. Polisi bilang katanya kamu pernah berhubungan badan sama dia, saya bilang tidak. Tidak pernah. Tapi saya seolah terus disudutkan. Dia terus ulang­ulang seolah saya mau dipaksa mengaku. Iya saya jawab saja iya, iyo, iyo. Capek saya pak, stres dan kasian lihat anak saya. Sampai­sampai di sekolah pun dia dibully teman­temannya. Saya sangat malu dan sedih. Memang saya sengaja ingin dikasih malu.

Siapa yang ingin kasih malu?

Iya itu. Pihak suami saya. Dari dulu memang saya sering tidak akur sama dia. Bahkan, pernah saya cerai.

Oh, begitu. Pernah cerai atau maksudnya pisah ranjang?

Bukan pisah ranjang, memang saya pernah cerai. Tahun 2011. Surat cerai kami ada. Dan sekarang ya, saya dan dia juga dalam proses perceraian. Saya tidak mau lagi sama dia. Saya yang ajukan gugatan cerai. Saya sudah lama tidak sama dengan dia, hampir satu tahun.

Alasannya?

Dia suka mabuk, gara­gara mabuk itulah makanya dia buta. Dia juga kasar sama saya. Pulang jauh malam, bahkan kadang tidak pulang. Perhatiannya tidak ada, apalagi sama anak­anak. Selama sekolah anak saya yang pertama, satu kali pun dia tidak pernah antar ke sekolah. Saya juga disuruh berhenti bekerja. Untuk apa jadi PNS, katanya. Saya kan K2 pak.

Tapi apakah dia selalu memberikan nafkah untuk ibu dan anaknya?

Kalau itu ya. Tapi saya sudah tidak mau lagi.

Kalau misalnya Polisi menyarankan untuk berdamai dan menyesaikan masalah secara kekeluargaan?

Saya tidak akan minta maaf, kecuali kalau dia datang ke sini mungkin saya maafkan. Masa saya yang dilapor baru saya pergi minta maaf.

Untuk diketahui bahwa hingga kini Syarifah Nadzifah masih berstatus sebagai terlapor atas kasus dugaan perselingkuhan dengan Subaer, pria asal Polewali Mandar. Kasusnya kini tengah ditangani Satuan Reskrim Polres Polman dan akan terus berproses kecuali pelapor menarik laporannya.

Ifah dan Subaer masih menjalani wajib lapor dan kerap mendatangi Polres Polman untuk proses penyelesaian kasus tersebut.

Dari salah satu portal berita on line lokal, Subaer dengan keras juga membantah tuduhan perselingkuhannya dengan mantan penyanyi lagu daerah Mandar itu.

"Tidak mungkin saya ada hubungan dengan Syarifah, kami terpaut jauh dari usia. Saya kelahiran '90 sedangkan Ifah kelahiran '85. Ifah itu seperti saudara saya karena memang keluarga," kata Subaer, dikutip Mandarnews.com.(*fokusmetrosulbar.com/polewaliterkini.net)

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Paling Populer

Football Live Scores

Standings provided by Polewali Terkinipolewaliterkini.net

loading...