SIAPA CALON BUPATI POLMAN 2018



PERINGATAN...! "Pasang CCTV sebelum terlambat..."

04/05/17

Hardiknas
POLEWALITERKINI.NET – Jakarta – Mata Air : Dua Mei adalah hari dimana bangsa kita memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sejarahnya, tanggal 2 Mei adalah tanggal kelahiran Bapak Pendidikan Nasional kita, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. 

Hari Pendidikan Nasional bertujuan untuk memperingati perjuangan Ki Hadjar Dewantara untuk mencerdaskan bangsa ini, menerangi jalan bangsa ini menuju masa depan yang sangat indah, menjadi perintis bagi bangsa ini untuk lepas dari belenggu kebodohan.


Sebenarnya apakah makna bagi kita ketika memperingati hari Pendidikan Nasional? Apakah hanya sekadar peringatan saja?  Atau hanya sekadar melaksanakan upacara di lapangan, menghormat bendera dan mendengar pidato khusus dari kementerian dalam peringatan hari Pendidikan Nasional?  .
Memang benar, mendengar kata HARDIKNAS, merasa mendengar sebuah lagu lama yang dinyanyikan ulang, mungkin hanya dengan sebuah aransemen yang sedikit berbeda. Bait-baitnya masih menceritakan hal yang sama.


Metode pengajaran yang monoton, kurikulum yang tidak menjawab kebutuhan dan persoalan di masyarakat, proses pembelajaran yang hanya dihargai dalam bentuk angka, angka ujian yang bisa dimanipulasi, dan juga anggaran pendidikan yang angkanya bisa dipermainkan. 

Belum lagi soal birokrasi pendidikan yang dituding penuh politisasi, dan juga politik yang gemar mempermainkan pendidikan. Setiap tahun rasanya kita berkutat dengan hal yang sama, peringatan Hardiknas selalu diwarnai dengan buruknya pendidikan di Indonesia. 

Akses pendidikan yang tidak merata,biaya yang tidak terjangkau dan keluh-kesah mengenai nasib pendidikan kita dimasa depan. Seperti apakah kita memaknai pendidikan di Indonesia.?

Carut-marut pendidikan kita tidak terlepas dari keadaan bangsa kita saat ini. Kita hanya mempunyai sedikit negarawan yang lebih mementingkan kepentingan bangsa dibandingkan kepentingan partai politiknya. 

Negara kita mempunyai banyak politikus tetapi lebih mendahulukan kepentingan partai dan dirinya sendiri dan kepentingan negara menjadi nomor dua. 

Negara ini terlalu mementingkan politik dan kekuasaan, menomorduakan pendidikan. Hal ini adalah sebuah ironi diatas ironi! Bangsa yang butuh percepatan untuk peningkatan kualitas pendidikan malahan diperlambat oleh orang-orang yang terdapat pada sistem yang digunakan untuk menjalankan pendidikan.


Seharusnya, momen hari Pendidikan Nasional menjadi kesempatan untuk secara terbuka bergulat dan mempertarungkan ide-ide yang bisa menyelamatkan pendidikan kita bukan hanya sekedar dijadikan ritual untuk menyisakan simpati pada pendidikan. Karena pendidikan adalah salah satu fundamental bagi sebuah bangsa/negara untuk bangkit dari keterpurukan, kebodohan, kegelapan, kesengsaraan dan kehinaan. 

Pendidikan merupakan proses pembentukan dasar berpikir yang logis dan berstandar. Namun, apa yang terjadi pada pendidikan kita saat ini? Apakah pendidikan sudah menjadi fundamental tersebut? Apakah memang benar pendidikan membentuk dasar berpikir kita? Jawabnya TIDAK. Pendidikan kita belum bisa menjadi fundamental bagi bangsa ini. 

Dengan sudut pandang seperti ini, HARDIKNAS yang diperingati setiap tahunnnya tidak menjadi momen bagi kita untuk membuka mata dan mengakui kesalahan yang telah terjadi. Ia tidak memberi kita manfaat yang lebih selain untuk mengingat jasa Ki Hajar Dewantara.

Pandangan dan Sikap sebagai Insan Pendidikan, Kita sebagai siswa dan mahasiswa marilah coba melihat bagaimana sebenarnya proses pendidikan kita? Apakah kita ingin mencari ilmu pengetahuan? Atau hanya sekadar mencari nilai untuk lulus? 

Di dalam dunia nyata, nilai bukanlah satu-satunya penentu kehidupan kita, hanya salah satu parameter dari sekian banyak parameter yang ada. Mari membuka pikiran kita untuk cakrawala ilmu yang sangat luas, harus selalu mau belajar dan mengkritisi apa sebenarnya yang kita pelajari.

Selain itu erusaha menyadari pentingnya pendidikan yang benar. Walaupun pendidikan kita kelihatannya tidak serta merta membentuk dasar berpikir yang benar, namun kita tetap harus bisa belajar untuk membentuk dasar berpikir yang benar untuk kita! 

Jadikan HARDIKNAS ini sebagai awal dari sebuah kontrak baru, dimana ultimatum untuk memperbaiki kinerja dan profesionalisme, serta dedikasi terhadap hakikat pendidikan diukur melalui hasil kerja nyata dalam satu tahun ke depan, dan akan diukur tepat pada HARDIKNAS berikutnya. 

Setidaknya, momentum HARDIKNAS menjadi lebih bermakna jika dijadikan sebagai momen pengukuran, momen evaluasi, yang bukan disia-siakan untuk umbar janji. 

Jika itu pun masih dirasa sulit, maka cobalah melihat HARDIKNAS sebagai momen untuk meminta maaf kepada mereka yang sudah terlampau mencintai pendidikan, tetapi tidak dicintai kembali. Dan marilah menjadi mata air bagi orang-orang sekitar kita, berusaha selalu membagikan ilmu-ilmu yang kita punya Untuk Indonesia Lebih Cerdas.

Penulis  : Hasan Bolong (Master of Education, State University of Jakarta, Awardee LPDP) Email: hasansulbar702@gmail.com
Marwan Sangga (Master of Education, State University of Jakarta, Awardee LPDP) Email: marwansangga1@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Paling Populer

Football Live Scores

Standings provided by Polewali Terkinipolewaliterkini.net

loading...