PIFAF 2017

Kamis, 31 Agustus 2017


POLEWALITERKINI.NET - Yogyakarta adalah sebuah kota yang istimewa. Dimana kota ini dibanjiri orang-orang berilmu dari berbagai daerah mulai sabang sampai merauke. Sehingga Yogyakarta ini disebut barometer Indonesia.

Hal ini sangat menarik kita ketahui bersama bahwa di Yogyakarta memiliki Kraton tempat kediaman Sultan Hamengkubuwono X yang ada, tetapi untk kalangan mahasiswa memiliki “The kingdom of  Todilaling”.

Kerajaan Todilaling yang dimaksud adalah tempat orang-orang yang mencari ilmu dari Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, yakni Asrama Mahasiswa “Todilaling” Yogyakarta.

The kingdom of  Todilaling adalah kisah tentang perjuangan menjadi yang berarti. Sebagaimana kita ketahui pada saat zaman kerajaan di pulau Sulawesi, ada wilayah yang dinamakan afdeling Mandar.

Dimana Afdeling Mandar ini tergabung 14 kerajaan dari Pitu Ulunna Salu (PUS) dan Pitu Baba’na Binanga (PBB) atau dengan istilah lain yakni dari paku hinngga Suremana.

Dalam perjalanan sejarah di Afdeling Mandar, kerajaan Balanipa adalah salah satu kerajaan yang menjadi induk dari semua kerajaan dimana raja pertamanya yang sangat fenomenal, yakni I Mayambungi atau yang diberi gelar Todilaling.

I Mayambungi inilah yang memberikan cahaya di Balanipa sehingga Balanipa bisa kelihatan kesejahteraan ditatanan masyarakat atau yang disebut “PANDARANA BALANIPA”.

Bagi orang Mandar yang merantau di Yogyakarta nama Todilaling ini mulai diabadika sekitar tahun 1970. Dengan diabadikannya nama itu di Yogyakarta, bagi mahasiswa Polewali Mandar harus menjadi tanggung jawab bersama dengan tetap menjaga marwah “Todilaling”.

Menjaga marwah dalam artian sebagai mahasiswa Polewali Mandar bukan hanya untuk menjaga kekokohan bangunan, kebersihan lingkungan, beradaptasi terhadap lingkungan tetapi harus kritis melihat persoalan yang ada di daerah Polewali Mandar bahkan ke Provinsi Sulawesi Barat.

Todilaling bukan hanya menjadikan suatu tempat berlindung saja di Yogyakarta tetapi bagaimana gagasan Todilaling ini nampak di permukaan sesuai dengan filosofi sang raja I Mayambungi yang datang diperantauan.

Dimana bisa memperbaiki tatana sosial yang kacau balau pada saat itu di Kerajaan Balanipa, disitulah gelar (digallar) “Todilaling“. Dengan dilakukannya intropeksi diri kita sebagai orang yang lahir (tinggal) di Todilaling ini akan menjawab bagi orang yang menganggap “Todilaling” adalah zona nyaman bagi mahasiswa Polewali Mandar Sulawesi Barat.

Harapan ini sangat besar kita bisa diwujudkan bagi mahasiswa Polewali Mandar Sulawesi Barat yang menuntut ilmu di Yogyakarta. Dimana dari awal dikatakan bahwa Yogyakarta inilah barometer Indonesia.

Berbicara mahasiswa untuk saat ini dengan mahasiswa tahun 90-an memiliki zaman yang sangat berbeda dimana dulunya maraknya aksi di jalanan hampir disetiap sudut kota besar diseluruh Indonesia. Tetapi untuk saat ini sulit untuk terjadi peristiwa seperti demikian.

Banyak faktor yang sangat memperngaruhi salah satunya perkembangan teknologi. Maka dari itu sinau bersama di Yogyakarta ini bisa dimanfaatkan untuk menambah wawasan, pengalaman serta ini bisa dijadikan semangat kebersamaan untuk berMandar di Yogyakarta.

Semangat berMandar kelihatan di Todilaling ketika orang risau menegenai bahasa Mandar yang terancam punah entah itu bahasa Mandar dialek PUS maupun PBB, tetapi ketika berada di lingkungan Todilaling orang yang tidak tau bahasa Mandar sama sekali bisa berbahasa Mandar.

Dalam hal ini setidaknya mengerti bahkan ada yang bisa  pasif yang dulunya tidak bisa jadi bisa. Begitupu dengan bahasa Jawa mugkin ini hal yang wajar juga untuk dipelajari, terutama tatakrama masyrakarat Yogyakarta. 

BerMandar yang dimaksud disini, yakni bagaimana prinsip-prinsip aMandaran selalu kita ingat disetiap langkah kita dalam belajar bersama. Seperti misalnya Siwaliparriq, Malililu Sipaingarang, Manus Siorongi, Mellette diatonganan, Issangi siriq dibanunna tau, sipakaraya dll.

Itu semua bisa jadi landasan kita dalam menuntut ilmu sebagai orang daerah Polewali Mandar Sulawesi Barat.

Biar bagaimanapun juga Yogyalarta ini kota berbudaya semua etnis ada di Yogyakarta. Dengan prinsip seperti itu yang kita tanamkan diperantauan dimanapun berada, itu akan menjadikan kita selamat dalam perantaun dalam hal apapun.

Hal yang paling penting juga adalah untuk mencapai cita-cita “The Kingdom Of Todilaling” salah satunya adalah diperbanyak ruang-ruang diskusi mengenai biografi tokoh pejuang dan isu daerah maupun nasional. Karena memalui forum diskusi kita bisa banyak belajar dari berbagai hal untuk mewujudkan kisah suatu perjuangan menjadi yang berarti.

Untuk itu mengajak untuk teman-teman mahasiswa  mulai dari sekarang sudah bisa melihat kedepannya sebagaimana kita harus bertindak selayaknya dengan gelar kita sebagai mahasiswa bukan lagi siswa di “The Kingdom of Todilaling”.

Mari kita berjihad (rela berkorban) untuk kepentingan orang banyak merubah mindset yang ada di daerah yang masih jauh dari harapan. Sebagaimana kita ketahui daerah Polewali Mandar daerah tertinggal meskipun sesungguhnya ketika kita melihat dipermukaan daerah Polewali Mandarlah yang paling maju diantara kabupaten yang lain.
Penulis :
Ilham Muslimin
Ketua IKAMA Sulbar Yogyakarta periode 2017-2019
Mahasiswa ISI  Yogyakarta 2014
Jurusan Tata Kelola Seni