PIFAF 2017

Sabtu, 09 September 2017


Wartawan Membeli Kue Jualan Nenek Halijah Saat Liputan
di Polres Polman
Nenek Halijah Memungut Botol Bekas Minuman Plastik
Untuk Tempat Minyak Kelapa
POLEWALITERKINI.NET - Sapaan santun seorang nenek penjual kue saat menawarkan dagangannya memecah kebekuan dan keheningan pagi saat dijumpai di Mapolres Polman.

Ya…setiap pagi nenek Halijah berkeliling kampung, dari satu RT ke RT lain sambil menjunjung barang dagangannya untuk dijajakan ke setiap rumah dan kantoran atau siapa saja orang yang ditemuinya dijalan.

Setiap pagi Halijah mulai pukul 06.30 Wita sampai sore,  nenek Halijah berkeliling mendatangi setiap rumah dengan membawa aneka jenis kue.

kue yang dibawa setiap hari sekira 100 biji dan diperkirakan beratnya sekitar 20 kg. Beban tersebut nenek Halijah bawa sendiri dengan ditaruh di atas kepalanya, benar-benar nenek yang luar biasa.

Kue-kue yang dijajakan Halijah bervariasi dan semuanya bernuansa tradisional atau kue rakyat. Ada Sambusa, kue Bandang Lojo, Jalangkote, Onde onde, Kue-kue tersebut dipatok harganya Rp. 5000 empat biji, ada juga yang harganya Rp 1000.

"Kue yang bawa ini punyanya tetangga yang saya jualkan, keuntungannya dibagi hasil, kalau kue habis biasa dapat untung Rp. 20 ribu, hanya modal kemauan, tenaga dan kepercayaan." Kata Halijah.

Semenjak suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu, berjualan kue menjadi tumpuannya menyambung hidup.

”Saya berjualan sudah hampir 5 tahun hingga saat ini. semenjak suami saya meninggal beberapa tahun lalu berjualan kue menjadi penopang ekonomi keluarga.” Cerita nenek Halijah.

Selain itu, kata dia, berjualan kue keliling lebih menguntungkan daripada harus menjadi pembantu atau kuli cuci karena dari hasil berjualan kue keliling uangnya bisa diputar lagi. Atau bisa mendapatkan keuntungan dan menutupi kebutuhan.

”Yang penting halal dan berkah.” pungkas Halijah

Nenek Halijah berdomisili di Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali.

"Saya tinggal dekat kantor daerah, nak." Cerita nenek Halijah semangat.

Ia menambahkan hasil dari berjualan kue dirasakan cukup membantu ekonomi keluarga, bahkan dari hasil penjualan kue, Halijah bisa menyekolahkan seorang cucunya dibangku sekolah dasar.

”Tapi sayang cucu saya banyak yang putus sekolah, mereka lebih memilih cari kerja." Ucapnya.

Semenjak suaminya meninggal dunia, nenek Halijah menjadi orang tua single bagi ke 5 anaknya. selain sebagai seorang Ibu yang merawat anaknya dia juga berposisi sebagai tulang punggung yang mencari nafkah bagi anaknya. Kedua peran ini dijalani Halijah dengan ikhlas dan sabar.

"Sekarang anak saya sudah berkeluarga semua, seat ini saya tinggal sama 3 orang cucu dan anak perempuan saya yang berstatus janda." Katanya

Halijah menjelaskan dirinya memang ada keinginan untuk menjual semua kue dari hasil buatannya sendiri, tapi apa dikata modalnya tidak ada. Dia juga sudah berusaha untuk mencari pinjaman modal dari tetangga tapi tidak dapat.

”Memang susah cari modal kalau tidak punya jaminan, jangankan pinjam ke bank ke tetangga saja kalau tidak ada jaminan susahnya minta ampun.” Ucapnya.

Sedangkan mengenai bantuan dari pemerintah, menurut nenek Halijah dia tidak tahu sama sekali kalau pemerintah menyalurkan bantuan berupa kredit lunak atau pinjaman bergulir buat usaha atau apa yang namanya kredit usaha rakyat.

Setahu Halijah pemerintah tugasnya hanya bikin KTP dan bagi beras di kelurahan.

"Jangankan dapat bantuan modal uang, beras raskin (Rastra ) saja sudah 1 tahun lebih saya tidak dapat waktu saya protes katanya nama saya sudah ditukar." Ujarnya memelas.

Ternyata masih ada orang seperti nenek ijah dengan kegigihannya berusaha memberdayakan keluarganya seorang diri tanpa ada bantuan dari tetangga atau pemerintah. Nek Ijah pantas disejajarkan dengan perempuan-perempuan dengan kegigihanya merubah dunia dengan harapan hari esok pasti lebih baik dari hari ini.

"Baru baru ini saya sakit rematik dan kaki kram tapi mau apalagi, Insha Allah tuhan beri kekuatan." Katanya.
          
Laporan : Z Ramadhana.