Kamis, 07 September 2017

Salah Satu Toko Penjual Tabung Gas 3 Kg di Polman
POLEWALITERKINI.NET – Kelangkaan gas elpiji tabung jenis melon 3 kg kini mulai dirasakan masyarakat. Hal ini sudah mulai berlaku sejak 1 minggu terakhir. Ibu Cici seorang pengusaha warung makanan di jalan Cokroaminoto Polewali menuturkan, kelangkaan gas 3 kg tersebut sudah dirasakan sehari sebelum hari raya idul adha.

Pada saat normal kata dia, harga gas jenis itu yang dia beli di pengecer Rp. 18 atau Rp. 19.000 ribu, namun seminggu terakhir ini harganya melambung mencapai Rp. 25.000.

"Itu kalau ada, tapi sekarang ini saya sudah keliling mencari di pengecer tidak ada saya temukan." Katanya menuturkan.

Menurut ibu yang memiliki tiga warung makan ini, terpaksa harus mengurangi porsi jualan makanan. Jika sebelumnya diwarungnya juga menyiapkan minuman tradisional jenis 'sarabba', namun setelah  gas 3 Kg sulit didapatkan dipasaran, beberapa jenis makanan dan minuman ditiadakan sementara.

"Saya hanya produksi makanan prioritas saja seperti nasi atau kopi. Makanan atau minuman yang harus terus dipanasi seperti sarabba ditiadakan dulu, karena harga gas naik dan langka." Bebernya.

Dia mengaku menggunakan 6 tabung gas hingga setiap hari untuk tiga warung miliknya, namun saat ini 1 warung dia tutup dulu sambil menunggu gas kembali normal. Karena kita hanya bergantung disitu.

Sementara itu pada tingkat pangkalan, pengecer membeli dengan harga Rp. 17.000-Rp. 18.000 per tabung.

Aty pengecer tabung jenis itu yang ditemui di warungnya di Lantora mengatakan gas melon 3 kg sangat langkah. Bahkan dirinya harus berebutan dengan pengecer lain hingga bisa mendapat 5 tabung untuk dibawa ke warungnya.

"Baru tadi saya dari pangkalan. Untung saya dapat 5 tabung, karena kalau menunggu pangkalan yang antar maka kita tidak kebagian." Katanya saat dihubungi, Kamis, 07 September 2017.

Dia mengaku menjual kembali gas tersebut kepada warga seharga Rp. 22.000.

"Lebih mending disini pak, kalau di pasar Senteral Polewali itu harganya Rp. 25.000." Ungkap Aty.

Pihak terkait yang dikonfirmasi di kantor dinas perindustrian perdagangan Polman, Muh Faizal mengatakan sejak dibentuknya nomenklatur baru undang-undang OPD tahun 2017, maka hingga saat ini pihaknya tidak mengetahui perihal tersebut.

"Tidak ada laporan data terkait jumlah pasokan yang masuk karena Disperindag selama berubahnya nomenklatur tidak diketahui lagi siapa yang membidangi." Jelas Muh Faizal.

Menurut dia, yang membidangi masalah tersebut adalah dinas pertambangan namun dinas tersebut sudah dilebur.

kata dia. Kepala Seksi Pembinaan Usaha Perdagangan Disperindag itu mengakui kalau beberapa pihak seperti polisi juga datang mempertanyakan hal itu.

"Kemarin polisi juga datang bertanya." Katanya.

Kata pria yang akrab disapa Ichal ini, kelangkaan gas biasanya disebabkan berkurangnya pasokan yang datang dari depot SPPBE di Makassar atau Parepare.

"Saya dengar info pertamina Sulsel tdk mampu lagi distribusi  ke Sulbar sehingga Pemkab Polman berencana membuat SPPBE di Labasang Wonomulyo.” Tutup Ichal.

Laporan  :  Z Ramadhana.