PIFAF 2017

Senin, 06 November 2017



POLEWALITERKINI.NET – Sebagai seorang mahasiswa, berbagai cara dilakukan untuk bisa bertahan dalam kehidupan ini, Mahasiswa Akademisi bertahan untuk terus mepertahankan nilai, ia rajin membuat tugas-tugas yang diberikan dosen, rajin masuk dalam setiap mata kuliah,dan tetap mempertahankan hubungan dengan dosen dengan maksud dan tujuan cuma 1 membuat citranya baik dihadapan dosen shingga dosen memberikan nilai yang baik menurutnya dan juga eksistensinya dalam system akademik Perguruan Tinggi Swasta maupun Negeri (PTN/PTS).

Adapun mahasiswa Aktifis ia akan bertahan dalam Idealisme-nya yang tinggi, mempertahankan hak-hak rakyat dari cengkeraman Pemerintah yang bertindak dzalim dalam membentuk kebijakan-kebijakannya yang sepihak, ia bagai Ikan bagi Pemerintah, mengapa Ikan? Karna Mahasiwa jenis ini bagai daging Ikan, dengan analogi bahwa didalam kenyamanan pemerintah yang bertindak sewenang-wenang, Mahasiswa Aktifis hadir sebagai duri untuk membuat kenyamanan para pemimpin itu hancur membuatnya resah dan akhirnya-pun runtuh karena ego-nya sendiri karna tanpa mementingkan hak rakyat., atau bisa jadi ia (Mahasiswa Aktifis) mengontrol tatanan masyarakat, mengkritisi kinerja para pegawai negeri yang kadang-kadang pongah dengan jabatannya yang menyebabkan ia lalai dari amanah yang telah diberikan, mengontrol dengan media kinerja demi kinerja pemerintah yang (kayaknya) membangun, tapi sebenarnya tidak. Contoh saja Aksi baru-baru ini yang dilakukan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Al-Asyariah Mandar (UNASMAN), ia menjadi agent of control dari sebuah kasus “DANA DESA”. Disitulah letak eksistensi mahasiswa.

Sebagai Sintesa  dari ke-2 jenis mahasiswa yang telah dipaparkan di atas, Mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Unasman, bergerak dalam ke-Moderatan, ilmu yang ada di Kampus ia implementasikan langsung ke lapangan, adapun wadahnya ialah “Mini Café Heksyar”. Usaha ini ditempuh karena melihat situsasi dan juga kondisi yang ada, bahwa banyak mahasiswa yang belajar di dalam ruang ilmiah (Kampus), jarang yang langsung meng-Implementasikan ilmu-nya, jarang.

Maka, berkat dukungan senior maka didirikanlah Café Heksyar ini, yang menjadi wadah Mahasiswa FAI Unasman untuk meng-implementasikan ilu yang didapat di perkuliahan. Hal ini sebenarnya telah berjalan lama, namun, tekanan demi tekanan dari dalam membuat Mini Café yang dulu berada di depan Masjid Pancasila itu pun berpindah tempat dan fakum selama kurang lebih 1 tahun. Dan pada akhirnya Mini Café yang dulu mati suri ini, telah bangkit kembali, dan sekarang berada di depan Staf FAI UNASMAN yang jika dilihat dari posisinya berada paling sudut.(Red.Tak terlihat).

2 minggu Mini Café Heksyar ini telah berjalan, meskipun kekurangan dan kekurangan dalam pelayanannya masih banyak, contohnya ialah meja belum tersedia dan lain-lain, namun dengan semangat dalam meng-Implementasikan semangat ber wirausaha yang juga termasuk dalam Visi FAI UNASMAN, maka ia (para mahasiswa yang mengurusi) tetap bertahan dalam roda kehidupan yang tak berujung ini.

Salah satu Mahasiswi yang mengurusi Mini Café Heksyar ini yang bernama asli Nur Fitriana Nafraf (Pitto) yang telah menginjak Semester 3 berkata kepada penulis, bahwa Mini Café Heksyar ini adalah media yang sangat baik dalam pengimplementasian Ilmu yang telah didapat di perkuliahan, sudah dekat dengan kelas dan satu lagi tempat Nongki sekaligus berdiskusi.

Tanggal 5/11/2017 pukul 9 pagi tepatnya, Pak Prof Sukadji Sarbi yang menjabat sebagai Wakil Rektor mendatangi Mini Café Heksyar ini, menurut ia, usaha yang telah dilakukan ini, ialah merupakan Ekonomi Kreatif, dan ia sangat mengapresiasi usaha yang telah dilakukan Mahasiswa FAI UNASMAN. Ia juga sempat menceritakan bagaimana masanya pada waktu mahasiswa dahulu, dan bagai melihat cermin, ia mengatakan bahwa usaha yang dilakukan Mahasiswa FAI UNASMAN ini adalah seperti yang ia lakukan dahulu. Motivasi dan juga harapan ditransfer kepada kami pada pagi itu oleh salah satu orang tua di Unasman. Dan kami sangat bangga atas kehadirannya, sempat penulis berbisik kepada pak Prof  “Pak…bisa foto bareng?” dan pak Prof-pun dengan gayanya yang sederhana meng-iyakan. Dan foto yang tempang di tulisan inilah yang mengabadikan moment yang sangat berharga itu.
Penulis  :  Muh Wahyu Hidayat