Sabtu, 06 Oktober 2018

Official Tim FPTI Sulbar Menceritakan Kisahnya
Selamat Dari Gempa dan Tsunami
POLEWALITERKINI.NET – Tiga orang perwakilan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Provinsi Sulawesi Barat, dipastikan selamat dalam peristiwa gempa bumi dan tsunami yang menimpa Donggala - Sigi - Palu, Sulawesi Tengah. Jumat, 28 September 2018 lalu.

FPTI Sulbar mengirim atlet panjat tebing ke Palu untuk mengikuti kejuaraan nasional Nomoni Boldering Climbing Competition season 3 yang akan
Andi Makkasau
berlangsung selama 3 hari mulai 29 September sampai 1 Oktober tapi tak jauh dari lokasi itu juga digelar ritual festival budaya Nomoni di anjungan pantai Palu.

Ke 3 perwakilan FPTI Sulbar yang berhasil lolos dari bencana gempa bumi dan tsunami, yaitu Jarot (22 tahun), Dicky Chandra (23 tahun) sebagai atlet serta 1 orang official tim Andi Makkasau (24tahun).

Dicky Chandra dan Andi Makkasau merupakan anggota FPTI Kabupaten Polman, sementara Jarot berasal dari FPTI Majene, perwakilan Sulbar ini tiba di Kota Palu pada pukul 14.00 Wita atau 4 jam sebelum musibah bencana alam itu terjadi.

Official tim Andi Makkasau menceritakan setiba di Kota Palu melalui perjalanan darat, ia langsung menuju lokasi lomba di anjungan pantai sesuai instruksi panitia mengikuti tehknikal meeting dan mengecek jalur, namun tepat pukul 18.00 Wita saat azan magrib berkumandang tiba tiba terjadi gempa bumi disusul terjangan tsunami.

"Saat gempa tanah seperti berjalan dan mulai terbelah saya langsung berlari sekencang kencangnya ke arah sebelah kiri mengikuti massa yang terhambur berlari ke arah sana." Ujar Makkasau menceritakan kisahnya, saat ditemui di Sekretariat FPTI Polman di area sport center, Kelurahan Madatte. Rabu, 3 Oktober 2018.

Menurut Andi Makkasau ketika berlari ia masih sempat memegang tangan Ketua Panitia lomba panjat tebing bernama Fadel, namun naas karena goncangan yang sangat dahsyat tangan Fadel terlepas dan menjadi salah satu dari ribuan korban meninggal dunia petaka bencana alam Sulteng.

"Sekitar 8 kilo meter saya berlari, bayangkan itu jembatan roboh terbelah dan pantai jalannya jalur 2 tinggal sepotong sekarang." Jelas Andi Makkasau kepada wartawan.

Suasana gempa dan tsunami Palu masih terngiang dibenaknya, Makkasau mengingat saat itu nyaris tak ada interval waktu antara gempa bumi dan tsunami, ia mengisahkan air laut 4 kali naik ke permukaan daratan 3 kali mengarah ke sebelah kiri menghantam lokasi perhelatan ritual festival Nomoni dan hanya sekali mengarah lurus.

Kata dia Nomoni dalam bahasa suku Kaili berarti berbunyi sehingga saat ritual berlangsung riuh terdengar suara bunyi bunyian.

"Tak berselang lama habis gempa langsung terjadi tsunami, kak, beruntung saya berlari ke arah ke kiri, seandainya ke arah kanan mungkin sudah tewas karena semua orang yang berada di festival Nomoni hampir tak tersisa." Ucap Andi Makkasau.

Dia menggambarkan air laut yang naik ke permukaan saat tsunami menerjang tingginya mencapai lantai 3 sebuah ruko, bahkan Makkasau menuturkan, sesaat setelah bencana alam tersebut, Kota Palu ibarat kota habis perang, listrik mati total, bandara terputus serta tak ada jaringan internet maupun seluler.

"Sekerumunan warga menjarah dimana mana, termasuk pertamina dan alfa midi dijarah, pokoknya kacau balau." Ungkap Andi Makkasau.

Sempat menginap di posko pengungsi, Andi Makkasau kemudian memutuskan berjalan kaki ke kantor FPTI Palu di jalan Cendrawasih disana ia kemudian bertemu 2 atlet panjang tebing Sulbar lainnya Dicky Chandra dan Jarot yang sempat terpisah dengannya.

5 hari 5 malam berada di Kota Palu selama itu pula ke 3 perwakilan FPTI Sulbar ini gencar membantu warga setempat yang tertimpa musibah bahkan mereka pun ikut merasakan beberapa kali gempa susulan membayangi Kota Palu yang saat itu sungguh mencekam.

"Setelah situasi mulai kondusif, saya dan ke 2 atlet FPTI Sulbar pulang kembali ke kampung halaman masing masing dengan menumpang mobil teman." Ucapnya.

Laporan  :  Z Ramadhana.

PolewaliTerkini.Net

Populer Minggu Ini