![]() |
| Warga Dusun Pamu'tu, Desa Batetangnga, ?Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terpaksa melakukan swadaya untuk membuat jalan yang terputus. (Foto : Anto). |
PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Di balik bukit dan lereng terjal Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, ada kisah nyata yang patut dijadikan cermin dan inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Polewali Mandar.
Di Dusun Pamu'tu, semangat kepedulian dan rasa memiliki terhadap fasilitas umum tidak pernah padam, meskipun rintangan berat menghadang di depan mata.
Jalan akses menuju dusun ini sejatinya telah dibangun melalui program Kementerian PUPR, namun tersisa sekitar 150 meter jalan yang belum tersentuh pembangunan.
Mengapa Belum Selesai?
Tantangannya bukan soal niat atau kemauan, melainkan batas wilayah. Ruas jalan tersebut masuk ke dalam kawasan hutan lindung, sehingga secara aturan dan administrasi pembangunan tidak bisa diteruskan.
Akibatnya, ruas jalan dengan struktur tanah merah yang curam, mendaki, dan memiliki dua tikungan tajam berbentuk huruf S itu, masih berupa jalur tanah yang sulit dilalui.
Saat hujan turun, jalur ini menjadi sangat licin, berlumpur, dan nyaris mustahil dilewati kendaraan, menyulitkan warga dalam beraktivitas sehari-hari.
Namun, keterbatasan dan aturan tidak membuat warga Dusun Pamu'tu berdiam diri dan hanya menunggu uluran tangan sepenuhnya dari pemerintah. Mengutamakan kepentingan bersama, warga bergerak.
Dengan semangat gotong royong yang kian menguat, mereka mengumpulkan dana swadaya dan sedikit bantuan dari pihak lain, lalu turun tangan sendiri memperbaiki jalur tersebut.
Karena dana yang dikumpulkan sangat terbatas, warga mengambil langkah bijak namun penuh perjuangan. Mereka hanya mampu mengecor selebar 1 meter di satu sisi jalan saja.
Tujuannya sederhana namun sangat berarti: asal ada jalur yang aman bagi sepeda motor agar warga tetap bisa lewat dan tidak terisolasi.
"Pengecoran jalan ini hanya dicor satu meter saja dulu. Asal ada jalan motor dulu ini bisa dilalui warga." Ungkap Kepala Dusun Pamu'tu, Hamri, dengan nada penuh harap.
Kini, pekerjaan itu terpaksa terhenti sementara. Bukan karena warga malas, melainkan karena stok bahan bangunan seperti semen, pasir, dan kerikil telah habis.
Udi, salah satu warga yang ikut terlibat langsung, menyampaikan harapan tulus warga setempat.
"Nanti kalau sudah ada lagi material baru kita lanjut kerjakan lagi jalannya. Semoga ada kasihan donatur atau orang lain yang bisa menyumbang, apapun itu pasti sangat membantu kami." Ucapnya.
Kepala Desa Batetangnga, Sumaila Damang, menjelaskan bahwa pemerintah desa sebenarnya telah berupaya keras mengatasi kendala status lahan ini.
Kata Kades, berbagai surat permohonan telah dikirimkan ke pemerintah kabupaten dan instansi terkait, baik untuk peminjaman lahan maupun pembebasan status kawasan, namun hingga kini belum ada titik terang.
Penggunaan Dana Desa pun cukup sulit dilakukan karena keterbatasan dan efisiensi anggaran yang harus disesuaikan dengan aturan.
"Kita berharap semoga ada jalan agar status jalan tersebut bisa digunakan pinjam pakai atau bebas dari kawasan, agar akses warga benar-benar aman dan nyaman." Tambah Sumaila Damang.
Pesan Menginspirasi untuk Wilayah Lain
Kisah perjuangan warga Dusun Pamu'tu ini adalah pelajaran luar biasa bagi desa-desa dan kecamatan lain di Polewali Mandar.
Ini membuktikan bahwa 'Pembangunan dan kepedulian terhadap fasilitas umum tidak melulu soal anggaran besar pemerintah, melainkan tentang seberapa besar rasa memiliki kita terhadap lingkungan tempat tinggal'.
Warga Pamu'tu mengajarkan kita bahwa ketika fasilitas umum belum sempurna atau terhalang kendala, bukan sikap mengeluh yang ditunjukkan, melainkan inisiatif untuk berbuat apa yang bisa dilakukan demi kebaikan bersama.
Semangat ini adalah kunci kemajuan sebuah wilayah. Fasilitas umum adalah urat nadi kehidupan masyarakat, dan merawat atau melengkapinya adalah tanggung jawab kita semua.
Kisah ini juga menjadi panggilan hati bagi siapa saja yang peduli, kepada para pemangku kebijakan, pengusaha, tokoh masyarakat, maupun sesama warga di wilayah lain.
Lihatlah perjuangan saudara kita di Binuang. Jalan selebar satu meter yang mereka bangun dengan keringat sendiri adalah bukti betapa berharganya akses yang layak.
Mari kita jadikan semangat Pamu'tu ini api yang menyalakan semangat di wilayah masing-masing. Mari saling bahu-membahu, peduli, dan tidak lelah berjuang melengkapi fasilitas yang ada.
Karena ketika kita peduli pada jalan di kampung kita, kita sedang membangun masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Polewali Mandar.
Semoga perjuangan warga Pamu'tu segera menemukan pertolongan dan jalur mereka segera rampung sepenuhnya.
Laporan : Metro Anto

