*** LINDUNGI DIRI, LINDUNGI SESAMA ***

Kamis, 06 Agustus 2020

Program KKN Unsulbar Berbagi Masker
di Desa Sidorejo
POLEWALITERKINI.NET – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang XV Mandiri Mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR) melakukan aksi sosial dalam masa Pandemi Covid 19 di Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat.

Aksi Sosial Mahasiswa KKN Unsulbar ini membagikan masker dan sosialisasi serta memberikan edukasi kepada warga desa Sidorejo tentang pencegahan penyebaran Covid 19 bagi Masyarakat Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo. Rabu (05/08/2020).

Langkah ini adalah program kerja sebagai bentuk keprihatinan mereka terhadap Kondisi saat ini yang melihat penyebaran Covid 19 semakin meningkat. Harapannya penyebaran virus corona bisa tertekan.

“Kami melakukan kegiatan ini guna untuk menekan angka penyebaran Covid 19, serta mengingat kan kembali kepada masyarakat tentang pentingnya untuk tetap menerapkan protokol Covid 19, sehingga dapat mencegah penyebaran Covid 19 Yang ada di Desa Sidorejo." Ucap Hamlia Selaku Penanggung Jawab Kegiatan.

"Dalam penyelenggaraan kegiatan aksi sosial tersebut, kami menghimbau kepada warga Sidorejo dan senantiasa mengingat kan warga untuk tetap memakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan untuk mencegah penyebaran virus corona." Tambahnya.

Lebih lanjut Hamlia mengatakan, sekarang diketahui angka penyebaran Covid 19 sudah semakin meningkat, sehingga selalu  menghimbau masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan covid-19.

“Dalam program kerja KKN kami memberikan Masker dan sosialisasi tentang pencegahan Covid 19 kepada masyarakat termasuk prioritas kami untuk mencegah penyebaran Covid 19, dengan harapan  kami bisa mengambil peran melalui kegiatan ini dan sedikit membantu pemerintah dalam menghadapi virus ini.” Jelas Hamila.

Pada program kerja kali ini kami berkerja sama dengan mahasiswa KKN Universitas Kanjuruhan Malang dan Universitas Megarezky Makassar.

Laporan  :  Sukriwandi

Pihak Kepolisian Amankan Pelaku dan Menenangkan Warga
Kapolsek IPTU Sukirno Bersama Anggota Kunjungi
Korban di Puskesmas Mapilli
Kapolsek Mengamnkan Pelaku di Rumah Orang Tuanya
Kapolsek Campalagian, IPTU Sukirno Menenangkan Warga
POLEWALITERKINI.NET – Perkelahian satu lawan satu dengan menggunakan parang dan badik kembali terjadi. Kamis (06/08/2020) sekira pukul 16.00 Wita di Kampung Baru, Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat.

Penganiayaan yang berawal dari perkelahian satu lawan satu dengan menggunakan sajam (parang dan badik) antara Faisal (26), petani, warga Kampung Baru, Desa Tenggelan, Kecamatan Luyo, dan kini sebagai korban.

“Dalam peristiwa itu korban Faisal (26) mengalami luka robek di perut, luka terbuka pada tangan kanan, luka robek di kepala (ubun ubun) dan luka robek di dahi, selanjutnya korban di rawat di Puskesmas,  Kecamatan Mapilli, dalam keadaan sadar.” Kata Kapolsek Campalagian, IPTU Sukirno.

Sedangkan pelaku Wardi (18), petani, warga Dusun Palungan Desa Sambali Wali, Kecamatan Luyo (Sebagai pelaku) mengalami luka  lecet  pada siku tangan kiri dan luka gores pada perut, dan kini dia bersama Barang Bukti sudah diamankan di polsek campalagian.

Perkelahian satu lawan satu pecah saat korban Faisal (26) berada di samping Masjid Al Amin Banua Kayyang, Dusun Kampung Baru, Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, dan tidak lama kemudian lewat pelaku Wardi (18), mengendarai motornya.

Situasi itu tak terbendung dimana oleh korban Faisal (18) langsung memberhentikan sambil mengatakan kenapa selalu lewat di sini masalah kita belum selesai, namun oleh pelaku Wardi (18) tidak terima baik dan terjadilah perkelahian.

“Korban berada di samping Masjid, kemudian lewat Pelaku dengan mengendarai motor, selanjutnya diberhentikan oleh korban dan reaksinya langsung cabut parang hingga pada akhirnya terjadilah perkelahian satu lawan satu dan keduanya mengalami luka.” Jelas Kapolsek, IPTU Sukirno.

Menurut hasil penyelidikan bahwa 2 hari  sebelum kejadian antara pelaku dan korban bertemu di acara pengantin di Dusun Palungan, Desa Sambali-Wali, oleh korban menegur pelaku jangan gas gas motor dan balap balap karena jalanan sempit.

Namun saat itu pelaku Wardi (18), tidak terima dengan baik dan spontanitas langsung cabut badik melakukan pengancaman akan tetapi langsung dilerai oleh warga masyarakat dan kembali kerumah masing-masing.

“Jadi dugaan sementara motif perkelahian ini dipicu ada ketersinggungan kedua belah pihak dan dendam.” Kata Kapolsek Campalagian, IPTU Sukirno.

Kapolsek Campalagian menghimbau kepada keluarga ke dua belah masing-masing menahan diri tidak melakukan aksi balasan dan percayakan penanganannya kepada aparat kepolisian untuk memproses sesuai hukum yang berlaku.

Laporan  :  Sukriwandi



POLEWALITERKINI.NET – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kembali melakukan unjuk rasa terkait "Matinya Satgas Covid-19 dan Bobroknya Sistem Pelayanan RSUD Polewali Kabupaten Polman yang tidak maksimal". Kamis (06/08/2020).

Sekira puluhan orang mengatasnakam HMI Cabang Polman melakukan unjuk rasa di Depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Polman. Mereka berorasi menyampaikan sejumlah tuntutannya kepada pihak pemerintah.

Muhammad Ridwan (Korlap) dalam orasinya mengatakan, tidak pernah meragukan tugas seorang dokter tetapi masih ada dokter yang melalaikan tugasnya.

Untuk itu dia mendorong untuk segera dilakukan penunjukan pejabat definitif karena adanya pengambilan kebijakan yang tidak boleh dilaksanakan oleh PLT.

Dia juga melihat pelayanan rumah sakit yang tidak maksimal, banyak aspirasi masyarakat yang terpendam karena tidak bisa bertemu dengan pimpinan Kabupaten Polman dan anggota dewan.

Kata dia, 45 anggota dewan yang ada di sini punya kontrak politik dengan masyarakat. Kalau kita melihat apakah mereka betul-betul bekerja memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Untuk itu para Mahasiswa ini menuntut :

1. Copot PLT dan Segera menunjuk pejabat definitif
2. Pecat Kabid Pelayanan
3. Perjelas anggaran Refocusing Covid-19
4. Evaluasi Tim Satgas
5. Copot Ketua Satgas
6. Percepat Penyediaan Ruangan, Alkes, dan Tenaga Medis
7. Hapuskan biaya rapid test

Setelah aksi di depan RSUD Polman, massa pun membubarkan diri dan selanjutnya menuju Alun-alun Sport Center dan bertemu dengan Bupati Polman dengan maksud ingin melakukan hearing.

Rencana aksi HMI Cabang Polman nyaris ricuh dengan aparat keamanan karena tidak menerima korlap aksi di katakan “bodoh” oleh Bupati Polman.


Kemudian Aksi unjuk rasa HMI Cabang Polman selanjutnya berlanjut menuju gedung DPRD Kabupaten Polman.

Massa aksi tiba di depan Gedung DPRD Polman sambil melakukan orasi secara bergantian dan selanjutnya mereka di terima anggota Komisi III DPRD Kabupaten Polman dari Fraksi Nasdem Syarifuddin.


Korlap aksi Muhammad Ridwan mengatakan, banyak aspirasi masyarakat yang terpendam karena tidak bisa bertemu dengan pimpinan Kab. Polman dan anggota dewan.

Sebanyak 45 anggota dewan yang ada di sini punya kontrak politik dengan masyarakat. Kalau kita melihat apakah mereka betul-betul bekerja memperjuangkan aspirasi

Selain itu dia menyampaikan sistem pelayanan RSUD Polewali sampai hari ini bobrok, copot Plt Direktur RSUD Polewali, Satgas Covid-19 Kabupaten Polman tidak becus bekerja.

Lebih lanjut dia katakan, kepala daerah bisa mengalokasikan anggaran (refocusing) tetapi hingga saat ini anggaran refocusing juga tidak jelas. Selain itu Lembaga legislatif kita juga sudah ditunggangi oleh lembaga eksekutif.

Massa juga mengkritisi biaya tertinggi rapid tes adalah Rp. 150 ribu tetapi apa yang terjadi biaya rapid tes masih juga dipungli. Biaya rapid tes bisa dianggarkan melalui anggaran refocusing.

Dia menyesalkan karena ketika ingin menanyakan anggaran Covid-19, Lembaganya di hina dan kader-kader kami di katakan “bodoh” ini ada apa.

Pada kesempatan itu Syarifuddin dari anggota Komisi III DPRD Polman, berterima kasih  dan memberikan apresiasi kepada adik-adik HMI Cabang Polman yang telah menyampaikan aspirasi.

Dia berjanji akan menyampaikan tuntutan adik-adik kepada Ketua DPRD dan meminta waktu Mahasiswa untuk melakukan RDP dengan leading sektor Komisi IV DPRD Kabupaten Polman.

Meski demikian Muhammad Ridwan (Korlap) pada kesempatan itu mengatakan, penyampaiannya bukan hearing. Dia sayangkan sebanyak 44 anggota DPRD Polman tidak ada di tempat.

Terkait tentang tuntutan lanjutnya, meminta copot PLT dan segera menunjuk pejabat definitif. Dia menilai 2 kasus berturut-turut ini tim satgas tidak becus bekerja, kedua perjelas anggaran refocusing.

Dia juga menyebut siapa orang yang ada di ruangan ini yang tahu anggaran dari pihak ke tiga dan ini rentan sekali di korupsi. Kepada siapa rakyat akan mengadu kalau bukan ke anggota DPRD Kabupaten Polman.

Dia meminta paling lambat menggelar RDP dengan memanggil atau menghadirkan BPBD, Dinsos, Tim Satgas, Balitbangren dan dinas kesehatan.

Hal lain biaya rapid tes ada indikasi pungli karena mengacu pada perbup terkait rapid tes biaya untuk melakukan rapid tes sebesar Rp 150 ribu tetapi kondisi di lapangan biaya rapid tes Rp. 300 ribu.

Laporan  :  Tim

Tim SAR Gabungan Temukan Korban Dalam
Kondisi Meninggal
POLEWALITERKINI.NET – Hasmila (40 tahun) Ibu Rumah Tangga (IRT) sebelumnya di beritakan di terkam buaya 7 meter saat buang air besar di aliran sungai Barakkang, Kecamatan Budong-Budong, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, di temukan tim SAR gabungan dalam kondisi meninggal.

BERITA TERKAIT : Buang Air Besar, Ibu Rumah Tangga Hilang Ditarik Buaya 7 Meter

Wanita berusia 40 tahun ini di tarik buaya dan di saksikan adik kandungnya, tim SAR pun berhasil menemukan korban dalam waktu 2 hari. Rabu (05/08/2020) sekira pukul 12.00 Wita di lokasi sekitar 2 Km dari tempat kejadian awal.

Kapolsek Budong-Budong, IPTU Suparman.,S.H membenarkan bahwa korban Hasmila (40 tahun) di temukan tim SAR gabungan, kaitan ini pihak keluarga di saksikan aparat desa meminta kepada petugas untuk tidak melakukan Autopsi.

"Sudah di temukan dan hasil koordinasi dengan pihak keluarga dan pemerintah Desa Barakkang. Pihak keluarga meminta agar jenazahnya tidak perlu di Autopsi dan bersedia menuangkan dalam surat pernyataan." Ungkap Kapolsek Budong-Budong, IPTU Suparman.,S.H.

Lebih lanjut, pihak kepolisian pun mengawal korban dari lokasi penemuan jenazah menuju rumah duka untuk di semayamkan dan pada pukul 15.00 Wita di laksanakan proses peguburan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Barakkang.

Tampak di lokasi rumah duka Kapolsek Budong-budong, BPBD Kabupaten Mateng, Basarnas Mamuju, Tagana Kabupaten Mateng, Polres Mamuju Tengah, Relawan dan masyarakat Desa Barakkang.(***)

Rabu, 05 Agustus 2020

  • Agustus 05, 2020
  • Grup Media Bakri Centre

POLEWALITERKINI.NETSURABAYA - Dalam menjalani bahtera  Rumah Tangga tak di bedakan dengan  kasta, jabatan dan atau pangkat seseorang, dan problem pun pasti akan  terjadi. Khususnya poligami yang menjadi perhatian publik belakangan ini.

Tak terlepas dari semua itu, khusus bagi TNI atau ASN telah di atur sesuai Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia No. 23 Tahun 2008 Tentang Perkawinan, Perceraian, dan Rujuk Bagi Pegawai di Lingkungan Departemen Pertahanan.

Seperti dikutif dari pernyataan Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan periode 2014 - 2019 yang lalu, "Saya sudah tanda tangan terus (surat pemecatan). Mau PNS dan tentara tidak boleh poligami. Ada aturannya”.

Pernyataan berbeda disampaikan Koordinator Nasional (Kornas) Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan & Anak (TRC PPA) yang akrab di sapa Bunda Naum.

"Sebuah pernikahan seorang prajurit itu kan ada nikah umum dan nikah dinas/negara. Jika seseorang (pihak ketiga) masuk dalam kehidupan rumah tangga prajurit dan telah mengetahuinya punya istri namun tetap nekad memaksakan kehendak nya untuk masuk dalam rumah tangganya, itu kan sudah melanggar hukum negara?,” katanya. Sabtu (01/8/2020).

Apa lagi ia nekad menghancurkan tatanan rumah tangga dan karir prajurit tersebut?. Mungkin kondisi ini tidak tepat jika hanya di berlakukan tindakan hukuman tegas kepada seorang prajurit (TNI) harus dipecat.

Namun harus ada aturan yang mencegahnya juga, mencegah tindakan pihak ketiga yang hendak masuk dan merusak rumah tangga prajurit TNI tersebut. Wajib didalami juga permasalahannya bukan?

Langkah mediasi mungkin sangat tepat untuk di lakukan dengan melibatkan pihak ke tiga yakni  lembaga independent di bidangnya, terang Bunda Naumi.

"Dan perlu jadi perhatian juga, jika mediasi tidak berhasil tentunya bukanlah akhir dari perjalanan karir seorang prajurit. Saya berharap ada hukum positif yang di rancang untuk mencegah terjadinya hal seperti itu." Lanjutnya.

Pecat!...adalah keputusan yang sangat mengerikan. Tentunya akan menimbulkan korban baru, nasib istri dan khususnya anak - anak dari prajurit tersebut akan mengalami trauma/shok yang berat, tegas Bunda.

Seseorang wanita (pihak ketiga) yang merasa tidak tercapai keinginannya, maka akan mehancurkan seorang prajurit atau ASN dengan cara melaporkan pada institusinya.

Dan perlu adanya tanggapan yang obyektif, kalau semua laporan bisa di terima dan di putuskan dengan pemecatan, saya khawatir dengan mudahnya suatu institusi di obrak abrik oleh oknum wanita tak bertanggung jawab, pungkasnya.(*Gus/Wnd).

  • Agustus 05, 2020
  • Grup Media Bakri Centre
Pelaku Pencurian Celana Dalam Wanita Diamankan Polisi
POLEWALITERKINI.NET – Seorang pria berinisial KM (35 tahun) terpaksa diamankan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Buleleng, Polda Bali, karena diduga melakukan pencurian celana dalam untuk memenuhi orientasi seksnya.

Berdasarkan penyelidikan polisi setempat pria keseharian bekerja sebagai pemulung ini di curigai melakukan pencurian dari keterangan saksi dan setelah melakukan pendalaman kuat dugaan terkait dengan pencurian celana dalam.

"Dari hasil interogasi awal terhadap di duga pelaku, ia mengakui perbuatannya, selanjutnya pelaku." Terang Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Vicky Tri Haryanto, S.H.,S.IK., M.H. saat di konfirmasi. Senin, 27 Juli 2020.

Menurut Vicky Haryanto, polisi menangkap pelaku atas dugaan tindak pidana pencurian sebagaimana di maksud dalam pasal 362 KUHP.

"Motif pelaku melakukan perbuatannya untuk memenuhi orientasi seks-nya." Tambahnya.

Kronologis kejadian berawal saat diduga pelaku berpura pura mencari rongsokan, setelah mengamati situasi dalam keadaan sepi pria tersebut mengambil pakaian yang di jemur di depan pekarangan rumah.

"Adapun barang bukti yang diamankan satu buah celana dalam wanita, setelah celana itu diambil kemudian diciumi." Tandas Kasat Reskrim Buleleng.
Laporan  :  Z Ramadhana

Selasa, 04 Agustus 2020

Tampak Warga Melakukan Pencarian di Lokasi Kejadian
POLEWALITERKINI.NET – Mamuju Tengah – Seorang ibu rumah tangga di Desa Barakkang Kecamatan Budong-Budong, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, di terkam buaya saat buang besar di pinggiran sungai.

BERITA TERKAIT : IRT Diterkam Buaya Akhirnya Ditemukan Dalam Kondisi Meninggal

Menyikapi ini pihak Kepolisian Sektor Budong-Budong langsung mendatangi lokasi kejadian di sungai Desa Barakkang guna melakukan pencarian. Selasa, (04/07/2020)

Kabid Humas Polda Sulbar AKBP Syamsu ridwan mengatakan, identitas seorang warga di terkam buaya bernama Hasmila, Umur 40 Tahun, jenis Kelamin, Perempuan, Pekerjaan Ibu Rumah Tangga.

Menurut Andi bahwa awalnya perempuan Hasmila turun ke sungai untuk buang Air besar tiba tiba seekor buaya berukuran sekitar 7 meter menerkam dari belakang.

Adik korban pun mendengar teriakan dan berusaha menolong, namun tidak mampu karena tarikan buaya tersebut lebih dulu membawa korban masuk ke dalam Air.

Beberapa saat kemudian korban dan buaya muncul di permukaan air namun hanya sesaat lalu kemudian tenggelam lagi ke dalam Air. dan Hingga saat ini korban belum di temukan.

Pihak Kepolisian Polres Mamuju Tengah bekerjasama dengan TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Basarnas masih melakukan pencarian kepada korban di sekitar sungai Barakkang.

Pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait agar memasang himbauan keamanan dan memberikan pagar pembatas di sepanjang aliran sungai barakkang agar kejadian serupa tidak terjadi lagi, Tutup AKBP Syamsu Ridwan.

Sumber : Humas Polda Sulbar

Penjual Pernak Pernik Merah Putih di Wonomulyo
Penjual Bendera di Sekitar SPBU Wonomulyo
POLEWALITERKINI.NET – Pedagang Bendera Merah Putih mendekati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2020 mulai bertebaran. Diantara mereka ada yang sengaja menjual bendera dan pernak pernik di badan jalan di Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kamis (04/08/2020).

Pedagang musiman ini beralasan, menjual bendera di jalan untuk menunjukan Nasionalisme dan kecintaan pada Negara. Selain itu memanfaatkan peluang usaha ini demi meraup untung.

Salah satu pedagang asal Wonomulyo, Asri, mengaku sengaja jualan pernak pernik merah putih di jalan untuk menunjukan rasa nasionalisme dan kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Pekerjaan utama saya tukang parkir, pak, saya jualan ini untuk mengajak warga perkuat nasionalisme dan kecintaan kepada Negara, selain itu buat tambah penghasilan," ujarnya, saat ditemui di jalan poros, depan pasar Wonomulyo, Selasa, 04 Agustus 2020.

Sementara itu, penjual bendera dan spanduk merah putih di Wonomulyo, Wahyu, mengatakan sudah seminggu mulai berjualan, dagangannya tersebut di jual dengan harga bervariasi mulai Rp. 20 ribu hingga Rp. 50 ribu.

Kata dia, dalam sehari ia bisa memperoleh omzet Rp. 500 ribu hingga Rp. 1 juta, "Bendera dan spanduk merah putih ini didatangkan dari Bandung, Jawa Barat," ucapnya.

Di tempat yang sama, Bendahara Desa Pussui Induk, Kecamatan Luyo, Mardawiyah, mengungkapkan sengaja datang ke Wonomulyo untuk membeli bendera dan spanduk merah putih, Hal itu lantaran bendera merah putih di kantornya warnanya sudah kusam.

"Bendera dan spanduk ini untuk keperluan kantor, pak," Tuturnya.
Laporan :  Z Ramdhana

PolewaliTerkini.Net

Populer Minggu Ini

INFO CORONA