![]() |
| Sampah berserakan di jalan KH Wahid Hasyim (bekas kantor BPBD dan inspektorat) kelurahan Pekkabata Polewali Mandar. (Foto : Fadli A). |
PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Pemandangan memprihatinkan kembali menghiasi jalan protokol K.H Wahid Hasyim, Pekkabata, Kabupaten Polewali Mandar.
Tepat di depan bekas kantor BPBD dan Inspektorat lama, tumpukan sampah dalam kantong-kantong plastik dan karung berserakan memenuhi pinggir jalan.
Didominasi sampah rumah tangga, tumpukan ini bukan hanya merusak pemandangan, melainkan menjadi sumber bau busuk yang menyengat dan mengganggu kenyamanan siapa pun yang melintas.
Lokasi yang seharusnya bersih dan tertib ini justru berubah menjadi tempat pembuangan terbuka yang tidak terurus. Parahnya, tumpukan sampah ini hanya berjarak beberapa meter dari SD 060 Pekkabata.
Udara yang berbau tidak sedap itu tak bisa tidak masuk ke ruang kelas, mengganggu konsentrasi dan kenyamanan ratusan siswa yang sedang menuntut ilmu.
Salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin dan kesal. Dia sering mendengar keluhan anaknya setiap pulang sekolah.
"Anak saya selalu mengeluh, katanya baunya sangat busuk sampai mengganggu saat belajar. Kasihan mereka, seharusnya lingkungan sekolah itu bersih dan sehat, bukan malah dihadapkan dengan tumpukan sampah begini." Ujarnya dengan nada kecewa.
Dia pun berharap pemerintah dan Dinas terkait segera turun tangan. Bagaimana mungkin tempat yang berada di jalur utama, dekat kantor dinas dan sekolah, dibiarkan kotor berhari-hari?
Apakah mata dan telinga pemangku kebijakan tidak melihat dan mendengar keluhan rakyat?
Teguran Keras Bagi Pengelola dan Masyarakat
Menanggapi hal ini, Pemerintah Kecamatan Polewali menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk menanganinya.
Namun, janji berkoordinasi seolah sudah menjadi lagu lama yang sering kita dengar, sementara sampah tetap menumpuk dan bau busuk tetap menguar.
Ini menjadi pertanyaan besar, Dimana tanggung jawab pengawasan dan pelayanan pemerintah?
Apakah penanganan sampah hanya dilakukan saat ada acara resmi atau saat sudah menjadi berita viral?
Padahal, kebersihan lingkungan adalah pelayanan dasar yang haknya dimiliki seluruh masyarakat, apalagi di lokasi strategis seperti ini.
Kelalaian dalam mengelola sampah adalah cermin buram dari manajemen pelayanan publik yang belum maksimal.
Namun, di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi cermin bagi kita semua. Perlu diingat kembali, bahwa sampah itu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan hasil ulah tangan manusia.
Membuang sampah sembarangan di pinggir jalan, di depan gedung Dinas, atau dekat sekolah adalah tindakan tidak beradab dan merusak hak orang lain.
Mari kita sadari bersama, tangan yang membuang sampah adalah tangan yang sama yang akan menanggung akibatnya.
Masyarakat harus berhenti menjadi biang kerok pencemaran, berhenti membuang sampah di tempat yang bukan semestinya, dan mulai peduli pada kebersihan lingkungan sendiri.
Pemerintah wajib hadir membersihkan, mengangkut, dan menegakkan aturan. Namun, masyarakat pun wajib sadar dan tidak menciptakan masalah yang sama berulang kali.
Jangan sampai Polewali Mandar dikenal bukan karena kemajuannya, melainkan karena tumpukan sampah yang dibiarkan berbau di mana-mana.
Semoga janji pemerintah bukan sekadar angin lalu, dan semoga kesadaran masyarakat tumbuh, agar siswa bisa belajar nyaman, lingkungan bersih, dan harga diri daerah tetap terjaga.
Laporan : Fadli A

