Iklan

Ketika Sumur Mengering, Negara Ditunggu Datang Membawa Air

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:05 WIB Last Updated 2026-08-12T07:05:35Z

Kepala BPBD Polman, Andi Chandra Sigit, mobil tangki air bantuan dan kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Polewali Mandar (Foto : Sukriwandi).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Musim kemarau mulai meninggalkan persoalan baru bagi sejumlah warga Polewali Mandar. Bukan hanya sawah yang membutuhkan air, tetapi juga rumah-rumah warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.


Di sejumlah desa, kekeringan perlahan berubah menjadi krisis. Sumur yang biasanya menjadi sumber air mulai berkurang debitnya, sementara sebagian warga harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.


Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Polewali Mandar mencatat sedikitnya 16 desa terdampak kekeringan. Di antaranya Desa Rea, Buku, Galeso, Sumarrang dan sejumlah desa lainnya yang tersebar di Kecamatan Mapilli, Wonomulyo, Campalagian, Balanipa hingga Binuang.


Angka tersebut mungkin terlihat sederhana dalam sebuah laporan. Namun bagi keluarga yang harus memikirkan air untuk minum, memasak, mandi dan kebutuhan sehari-hari, kekeringan bukan sekadar persoalan musim.


Dia adalah persoalan bertahan hidup. Satu Surat untuk Mendatangkan Air. Kepala BPBD Polman, Andi Chandra Sigit, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.


Namun hingga Rabu, 12 Agustus 2026, baru Desa Buku, Kecamatan Mapilli, yang secara resmi menyampaikan permintaan bantuan air bersih kepada BPBD.


Menurut Chandra, mekanismenya sederhana. Pemerintah desa yang mengalami kekurangan air dapat menyampaikan surat permohonan kepada BPBD untuk kemudian ditindaklanjuti.


"Pemerintah desa silakan menyurat ke BPBD. Insyaallah pasti kami tindak lanjuti." Ujarnya.


BPBD Polman juga telah menyiapkan armada mobil tangki berkapasitas sekitar 4.000 liter untuk mendistribusikan air kepada masyarakat yang terdampak.


Chandra meminta masyarakat tidak ragu menyampaikan kondisi kekeringan melalui pemerintah desa masing-masing.


"Kami sampaikan kepada masyarakat, silakan bermohon melalui kepala desa untuk menyurat kepada kami. Ini juga sudah ada perintah dari Bupati agar segera mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak." Katanya.


Jangan Menunggu Warga Kehabisan Air. Persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama bukan hanya kemampuan pemerintah menyediakan mobil tangki, tetapi juga seberapa cepat bantuan tersebut menjangkau warga yang membutuhkan.


Jika sudah terdapat 16 desa yang terdata terdampak, pemerintah bersama pemerintah desa dan para pemerhati lingkungan perlu memastikan tidak ada wilayah yang luput hanya karena belum mengajukan permohonan.


Dalam kondisi darurat air bersih, informasi mengenai desa yang mengalami krisis seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah melakukan pemetaan dan pemantauan aktif.


Pemerintah desa juga memiliki peran penting sebagai mata dan telinga pemerintah daerah. Ketika sumur warga mulai mengering, sumber air menipis atau warga mulai harus berjalan jauh untuk mendapatkan air, kondisi tersebut perlu segera dilaporkan.


Dari Tangki Darurat Menuju Solusi Permanen. Distribusi air menggunakan mobil tangki tentu sangat membantu, tetapi sifatnya masih respons jangka pendek.


Musim kemarau akan terus datang. Karena itu, Polewali Mandar membutuhkan strategi yang lebih panjang: pemetaan sumber air, pembangunan atau rehabilitasi sarana air bersih, perlindungan kawasan resapan, embung dan penampungan air, serta penguatan sistem distribusi air bagi desa-desa yang berulang kali mengalami kekeringan.


Pemerintah daerah juga dapat melibatkan pemerintah desa, dunia usaha, komunitas, organisasi sosial dan pemerhati lingkungan untuk membangun sistem gotong royong menghadapi krisis air.


Sebab ketika air menjadi langka, masyarakat tidak semestinya berjalan sendirian mencari jalan keluar.


Kemarau boleh datang setiap tahun. Tetapi kesiapan pemerintah dan kepedulian masyarakat seharusnya semakin kuat dari tahun ke tahun.


Hari ini mungkin hanya 16 desa yang tercatat mengalami dampak kekeringan. Namun pertanyaannya, berapa banyak desa yang akan menyusul jika hujan belum juga turun?


Dan sebelum sumur benar-benar kering, sebelum warga harus membeli air dengan uang yang tidak mereka miliki, mungkin inilah saatnya pemerintah, pemerhati lingkungan, dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat bergerak bersama.


Karena bagi sebagian warga, air bukan sekedar kebutuhan, tapi air adalah kehidupan.


Laporan : Sukriwandi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ketika Sumur Mengering, Negara Ditunggu Datang Membawa Air

Trending Now

Iklan

iklan