Iklan

Belajar dari Balik Jeruji, 47 Siswa Sekolah Rakyat Polman Melihat Langsung Pembinaan Warga Binaan

Jumat, 23 Oktober 2026 | 15:53 WIB Last Updated 2026-10-23T07:53:20Z

47 Siswa SRT 22 Polman Kunjungi Lapas, Belajar Keterampilan hingga Reintegrasi Sosial. (Foto : FadliAnt/Nadi).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Sebanyak 47 siswa SMA Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 22 Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, mendapatkan pengalaman belajar berbeda saat mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Polewali, Kamis (22/10/2026).


Kunjungan edukatif tersebut mengajak para pelajar melihat secara langsung proses pembinaan warga binaan, mulai dari pengembangan keterampilan, kegiatan produktif, pendidikan, hingga pembinaan kerohanian. Para siswa juga mendapat pemahaman mengenai pentingnya menjauhi perilaku yang berpotensi membawa mereka berhadapan dengan hukum.


Didampingi kepala sekolah, penanggung jawab SRT 22 Polman, tenaga pengajar, wali asuh, serta empat kadet Universitas Pertahanan (Unhan), para siswa mengikuti pemaparan mengenai lingkungan pemasyarakatan sebelum diajak berkeliling melihat berbagai kegiatan pembinaan.


Mereka memperoleh penjelasan tentang alur pelayanan, tahapan pembinaan, serta pemenuhan hak dan kewajiban administratif warga binaan.


Namun, pengalaman yang paling menarik bukan hanya mengenal kehidupan di balik tembok Lapas, melainkan menyaksikan bagaimana warga binaan mengembangkan kemampuan untuk mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.


Lapas Polewali Jadi Ruang Belajar, Siswa SRT 22 Polman, Kenali Keterampilan dan Hak Warga Binaan. (Foto : FadliAnt/Nadi).

Dari Mengolah Sampah hingga Membuat Roti. Dalam kegiatan tersebut, para siswa diperkenalkan dengan berbagai aktivitas produktif warga binaan. Di antaranya pengolahan sampah organik dan anorganik, budidaya tanaman organik, pembuatan produk mebel, kerajinan tangan, hingga usaha tata boga.


Di area pembinaan tata boga, para siswa berkesempatan menyaksikan proses pembuatan roti dan kue. Mereka bahkan diajak membuat adonan roti hingga mencicipi hasil olahan yang diproduksi dalam program pembinaan keterampilan.


Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pembinaan di Lapas tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan yang berpotensi dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat.


Para siswa juga melihat pelaksanaan pendidikan non formal melalui program Paket C serta kegiatan pembinaan kerohanian.


Selain menyaksikan kegiatan produktif, mereka mendapat kesempatan mendengarkan testimoni warga binaan yang menyampaikan pesan motivasi agar para pelajar tidak terjerumus ke dalam perilaku negatif yang dapat berdampak hukum.


Belajar dari Balik Jeruji, 47 Siswa Sekolah Rakyat Polman Melihat Langsung Pembinaan Warga Binaan. (Foto : FadliAnt/Nadi).

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran sosial, terutama untuk menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan perubahan diri membutuhkan kemauan serta kesempatan.


Lapas Bukan Sekedar Tempat Menjalani Hukuman. Kepala Lapas Kelas IIB Polewali, Sudarno, mengapresiasi inisiatif SRT 22 Polman yang berkolaborasi memberikan edukasi kepada para siswa mengenai kehidupan dan pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.


Menurutnya, kunjungan semacam ini penting untuk membangun pemahaman yang lebih utuh tentang fungsi Lapas sekaligus mengurangi stigma negatif terhadap warga binaan maupun mantan narapidana yang telah menjalani pembinaan.


"Kami sangat mengapresiasi inisiatif kunjungan edukatif ini dari SRT 22 Polman. Lapas bukan lagi tempat penghukuman yang menyeramkan, melainkan wadah pembinaan dan penyiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat. Melalui pemahaman reintegrasi sosial yang benar, kami berharap para siswa menjadi agen edukasi di lingkungan mereka agar tidak ada lagi pengucilan terhadap mantan narapidana yang telah dibina." Harap Sudarno.


Dia menegaskan bahwa berbagai program pembinaan dirancang untuk mendorong warga binaan memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan proses pemasyarakatan.


Bukan Sekadar Penjara, Lapas Polewali Tunjukkan Proses Perubahan Diri Warga Binaan. (Foto : FadliAnt/Nadi).

"Kami ingin menunjukkan bahwa di balik dinding Lapas Polewali, ada proses pembelajaran yang terus berlangsung. Warga binaan diajarkan berbagai keterampilan agar dapat menjadi individu yang lebih baik saat kembali ke masyarakat." Tuturnya.


Siswa Dikenalkan Hak dan Kewajiban Warga Binaan. Sementara itu, Kepala Subseksi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemas) Lapas Polewali, Asriani Darmawan, memberikan penjelasan mengenai tahapan pembinaan yang dijalani warga binaan serta kaitannya dengan proses reintegrasi sosial.


Dia juga menerangkan hak dan kewajiban warga binaan, termasuk persyaratan pemberian remisi, pembebasan bersyarat, dan cuti bersyarat sesuai ketentuan yang berlaku.


Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada para siswa bahwa proses kembali ke masyarakat memiliki tahapan dan persyaratan yang harus dipenuhi. Pelaksanaan hak-hak tersebut tidak terlepas dari aturan hukum serta ketentuan pembinaan yang berlaku.


Sepanjang kunjungan, para siswa tampak antusias berdiskusi dengan petugas dan sejumlah warga binaan. Mereka diajak memahami nilai-nilai kemanusiaan, empati, tanggung jawab, serta pentingnya memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki diri.


Pengalaman Empiris untuk Pelajar. Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polman, Muhiddin, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai lingkungan Lapas dan proses pembinaan warga binaan.


Lapas Polewali Buka Pintu Edukasi, Siswa Diajak Belajar Arti Kesempatan Kedua. (Foto : FadliAnt/Nadi).

Dia berharap para pelajar dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut agar lebih berhati-hati dalam bertindak, memahami konsekuensi hukum, dan tidak terjerumus dalam perilaku negatif.


"Kami kunjungan ini, siswa mendapatkan pengalaman empiris yang luar biasa tentang bagaimana kehidupan dalam Lapas. Sehingga wawasan siswa kami tentang pentingnya pembinaan di dalam Lapas bertambah. Mereka juga bisa melihat langsung bagaimana warga binaan menjalani proses perbaikan diri, yang tentunya menjadi pelajaran berharga dalam memahami perubahan sosial." Terang Muhiddin.


Menurutnya, kegiatan produktif yang dilihat para siswa juga berpotensi menjadi inspirasi untuk diterapkan di lingkungan sekolah, khususnya dalam pengolahan sampah organik dan anorganik.


Pembelajaran tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kunjungan selesai, tetapi dapat diwujudkan melalui kegiatan nyata di sekolah, termasuk membangun kebiasaan mengelola sampah dan mengembangkan keterampilan yang bermanfaat.


Kunjungan edukatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui perjumpaan langsung dengan lingkungan pemasyarakatan, para pelajar diajak memahami bahwa kesalahan memiliki konsekuensi, tetapi upaya memperbaiki diri juga perlu mendapat ruang.


Sebab, membangun masyarakat yang lebih baik bukan hanya tentang mencegah seseorang melakukan kesalahan, melainkan juga memastikan mereka yang telah menjalani pembinaan memiliki kesempatan untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.


Laporan : FadliAnt/Sukriwandi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Belajar dari Balik Jeruji, 47 Siswa Sekolah Rakyat Polman Melihat Langsung Pembinaan Warga Binaan

Trending Now

Iklan

iklan