Iklan


 

Bari'an Takir Plontang, Tradisi Rasa Syukur dan Berbagi di Awal Tahun Hijriah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 00:34 WIB Last Updated 2026-06-19T16:34:52Z

Warga Dusun Ponorogo, Desa Bumiayu, Kecamatan Wonomulyo, Polman, rayakan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. (Foto : FadliAnto).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman, secercah warisan budaya tetap terpelihara indah di Dusun Ponorogo, Desa Bumiayu, Kecamatan Wonomulyo. 


Setiap memasuki awal Tahun Baru Islam, tepatnya pada 1 Muharram hingga sepuluh hari pertama bulan tersebut, warga setempat merayakannya dengan cara yang istimewa dan sarat makna. 


Tradisi itu dikenal dengan nama Bari'an atau Takir Plontang, sebuah momen kebersamaan yang mempertemukan rasa syukur, kebersamaan, dan semangat berbagi.

 

Acara ini digelar sore hari menjelang malam Jumat, di sepanjang jalan raya maupun di perempatan kampung. 


Tikar-tikar besar dibentangkan rapi melintang di jalan, mengubah tempat yang biasanya dilalui kendaraan menjadi ruang makan bersama yang hangat dan penuh kekeluargaan.


Warga Dusun Ponorogo, Desa Bumiayu, Kecamatan Wonomulyo, Polman, rayakan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. (Foto : FadliAnto).

Sebelum berkumpul, setiap keluarga memiliki tanggung jawab istimewa: membawa makanan dari rumah masing-masing. 


Uniknya, porsi yang disiapkan disesuaikan persis dengan jumlah anggota keluarga di rumah. 


Berbagai hidangan sederhana nan lezat tersaji, nasi putih, nasi kuning, tahu, tempe, telur, hingga olahan ayam, semuanya adalah masakan rumahan yang diolah dengan penuh ketulusan.

 

Kegiatan dibuka dengan keheningan yang khusyuk. Warga duduk bersila rapi di atas tikar, dipimpin oleh sesepuh dan tokoh agama setempat untuk memanjatkan doa bersama. 


Doa dipanjatkan guna memohon keselamatan, dijauhkan dari segala marabahaya, serta memohon limpahan keberkahan sepanjang tahun yang baru dijalani.


Warga Dusun Ponorogo, Desa Bumiayu, Kecamatan Wonomulyo, Polman, rayakan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah., dengan cara makan bersama. (Foto : FadliAnto).


Usai selesai berdoa, suasana berubah menjadi ceria dan penuh sukacita. Hidangan tidak disajikan di atas piring, melainkan menggunakan wadah tradisional yang disebut takir terbuat dari anyaman daun pisang atau janur kelapa yang alami dan sederhana. 


Makanan kemudian dibagikan dan disantap bersama, bahkan ada yang dibawa pulang sebagai rezeki dan keberkahan untuk dibagikan kepada anggota keluarga yang tidak hadir.

 

Menurut penuturan tokoh agama setempat, Giat, tradisi ini telah berlangsung turun-temurun selama ratusan tahun, dibawa dan dilestarikan oleh nenek moyang suku Jawa yang mendiami wilayah ini. 


Bagi warga, ini bukan sekedar acara makan-makan biasa, melainkan simbol persatuan, tidak ada perbedaan status, semua duduk setara, dan setiap orang membawa apa yang dimiliki untuk dinikmati bersama.

 

"Tradisi ini kami lestarikan agar selalu terjalin rasa persaudaraan yang erat. Kami berharap melalui Bari'an Takir Plontang ini, seluruh warga senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, dan kebaikan melimpah di Tahun Baru Islam 1448 Hijriah ini." Ungkapnya.

 

Di tengah kemewahan zaman modern, tradisi ini mengajarkan makna sederhana namun mendalam, bahwa kebahagiaan menjadi lebih lengkap ketika dimakan bersama, dan rezeki menjadi lebih berkah ketika dibagikan.

 

Laporan : Fadlianto

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bari'an Takir Plontang, Tradisi Rasa Syukur dan Berbagi di Awal Tahun Hijriah

Trending Now

Iklan

iklan