![]() |
| Seekor paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens) terdampar di perairan Pantai Bajoe, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. (Foto : Nadi). |
PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi nelayan, tiba-tiba menghadirkan pemandangan yang mengundang rasa iba.
Seekor paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens) terdampar di perairan Pantai Bajoe, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, diduga akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Mamalia laut sepanjang sekitar empat meter itu ditemukan dalam kondisi lemah dengan sejumlah luka di tubuhnya. Sejak ditemukan, nelayan bersama aktivis lingkungan berjibaku berupaya mengembalikannya ke laut lepas.
Namun, setiap kali didorong ke perairan yang lebih dalam, paus tersebut kembali terbawa arus menuju bibir pantai.
Paus itu pertama kali ditemukan oleh Kahar, seorang nelayan yang saat itu sedang memperbaiki keramba rumput laut.
"Saya sedang memperbaiki keramba rumput laut, lalu mendengar suara semburan air dari atas kepala hewan itu. Awalnya saya kira buaya, setelah saya dekati ternyata seekor paus." Tuturnya.
Melihat kondisi paus yang terus melemah, warga kemudian menghubungi Satpolair serta komunitas pemerhati lingkungan laut untuk meminta bantuan evakuasi.
Namun upaya penyelamatan tidak berjalan mudah. Air laut yang sedang surut, angin timur yang bertiup kencang, serta gelombang tinggi membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati demi keselamatan satwa maupun para relawan.
Ketua Sahabat Penyu, Muhammad Yusri, mengatakan penyelamatan mamalia laut yang terdampar membutuhkan penanganan khusus.
"Kendalanya air laut sedang surut dan angin cukup kencang. Kami membutuhkan lebih banyak orang, perahu, serta waktu yang tepat ketika air mulai pasang agar paus bisa dibawa ke laut yang lebih dalam." Jelasnya.
Menurutnya, memaksa mendorong paus tanpa teknik yang benar justru dapat memperparah kondisi satwa tersebut.
Mamalia Laut yang Dilindungi. Paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens) merupakan salah satu mamalia laut yang hidup berkelompok dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Di Indonesia, seluruh jenis paus termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan mengenai konservasi sumber daya alam hayati.
Para ahli menyebut mamalia laut dapat terdampar karena berbagai faktor, mulai dari cuaca ekstrem, perubahan arus laut, gangguan navigasi alami, penyakit, hingga cedera akibat aktivitas manusia seperti tertabrak kapal atau terjerat alat tangkap.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak menarik ekor, menyiram lubang pernapasan, menaiki tubuh paus, ataupun melukai satwa tersebut.
Langkah yang dianjurkan adalah segera melaporkan kejadian kepada Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), petugas konservasi, Satpolair, atau komunitas penyelamat satwa laut agar proses evakuasi dilakukan sesuai prosedur.
Laut Bukan Sekadar Tempat Mencari Ikan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa laut bukan hanya ruang mencari nafkah bagi nelayan, tetapi juga rumah bagi ribuan spesies yang memiliki peran penting menjaga keseimbangan alam.
Ketika satu mamalia laut terdampar, sesungguhnya alam sedang mengirimkan pesan kepada manusia agar semakin peduli terhadap kesehatan ekosistem laut.
Sampah plastik, pencemaran, penggunaan alat tangkap yang merusak, hingga perubahan iklim merupakan ancaman nyata yang dapat mengganggu kehidupan satwa laut.
Hingga berita ini diturunkan, paus tersebut masih berada di perairan Pantai Bajoe.
Tim relawan bersama nelayan berencana melanjutkan proses evakuasi saat kondisi air laut kembali pasang dengan harapan mamalia laut itu dapat kembali ke habitat alaminya dengan selamat.
Laporan : Nadi
