![]() |
| SMP Negeri 6 Tubo Sendana, Kabupaten Majene. Dalam kegiatan Remaja Tangguh, Jiwa Sehat, Berani Hadapi Tantangan digelar Mahasiswa Profesi Ners STIKES Marendeng Majene. (Foto : NAdi). |
PolewaliTerkini.Net - MAJENE - Tugas, circle dan media sosial, menjadi bagian dari cerita yang muncul ketika siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 6 Tubo Sendana, Kabupaten Majene. Diajak berbicara tentang tekanan mereka hadapi sebagai remaja.
Dalam suasana ceramah yang kaku. Para siswa justru diberi ruang untuk berbicara, mendengar dan merefleksikan pengalaman mereka sendiri dalam kegiatan remaja tangguh, jiwa sehat, berani hadapi tantangan, yang digelar mahasiswa Profesi Ners STIKES Marendeng Majene di SMPN 6 Tubo Sendana, Desa Onang, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Profesi Ners Keperawatan Komunitas dan Keluarga Tahun 2026. Fokusnya tidak berhenti pada penyampaian informasi tentang kesehatan mental, tetapi mendorong remaja mengenali tekanan, membangun keterampilan menghadapi masalah, berani meminta pertolongan, serta menciptakan hubungan sosial yang sehat.
Kepala SMPN 6 Tubo Sendana, Nurmadinah, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menyampaikan rasa syukur karena sekolah mendapatkan ruang edukasi yang secara khusus mengangkat kesehatan mental dan ketahanan remaja.
Bagi sekolah isu tersebut semakin relevan dengan kehidupan siswa yang kini tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam lingkungan pertemanan dan ruang digital.
Dosen Pembimbing Lapangan sekaligus narasumber kegiatan, Fredy Akbar, mengatakan. Pertemuan dengan para siswa memberikan pelajaran penting bagi remaja memiliki tekanan yang nyata, tetapi sering kali membutuhkan ruang yang aman untuk menceritakannya.
'Tadi pagi ketemu adik-adik SMP yang luar biasa jujur tentang pressure mereka. Tugas, circle, sosmed." Ujarnya.
Menurutnya, kesehatan mental perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari kesehatan remaja, sejajar dengan perhatian terhadap capaian akademik.
"Kita belajar kalau kesehatan mental itu sama pentingnya dengan nilai rapor." Jelasnya.
Fredy juga memberikan pesan sederhana yang diharapkan dapat dibawa siswa dalam kehidupan sehari-hari.
"Minta tolong itu bukan lemah. Bilang Tidak itu bukan jahat." Tuturnya.
Dia menekankan, kemampuan mencari bantuan dan menetapkan batas diri merupakan bagian dari keterampilan yang perlu dimiliki remaja.
Dalam kegiatan itu, mengajak siswa menjadi pendengar yang CERIA, yakni Cerdas, Empati, Rajin ibadah, dan Interaksi positif.
"Terima kasih sudah jadi pendengar yang CERIA. Kalian keren." Harapnya.
Dia jelaskan di balik kegiatan tersebut, mahasiswa Profesi Ners STIKES Marendeng Majene menjadi pelaksana utama di lapangan, mulai dari persiapan, koordinasi, pelaksanaan edukasi, hingga membangun interaksi dengan siswa dilakukan secara bersama-sama. Sehingga memberikan apresiasi khusus kepada para mahasiswa.
"Di balik lancarnya kegiatan Remaja Tangguh di SMPN 6 Tubo Sendana, ada mereka: mahasiswa Profesi Ners yang totalitasnya luar biasa. Dari persiapan sampai selesai, mereka all out." Tandasnya.
Dia menyebutkan, mahasiswa sebagai bagian penting dalam menghadirkan edukasi kesehatan mental di tengah masyarakat.
"Terima kasih sudah jadi garda terdepan kesehatan mental remaja. Kalian keren, kalian tangguh." Lanjutnya.
Dia mengharapkan, kegiatan Remaja Tangguh tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Kegiatan ini menjadi bagian dari praktik keperawatan komunitas yang mempertemukan mahasiswa, sekolah, Puskesmas, pemerintah desa PLKB, dan masyarakat.
Pesan yang dibawa juga sederhana remaja perlu memiliki pengetahuan tentang kesehatan mental, kemampuan menghadapi tekanan, keberanian mencari bantuan serta lingkungan yang mampu mendengarkan.
"Dari ruang kelas SMPN 6 Tubo Sendana, percakapan tentang kesehatan mental pun dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan siswa." Ucapnya.
Sementara PLKB Desa Onang, Rusdi, menjelaskan. Berbicara mengenai peran lingkungan keluarga dan masyarakat dalam membangun ketahanan remaja.
Ketahanan remaja tidak berdiri sendiri. Keluarga, sekolah, masyarakat dan berbagai pihak yang berada di sekitar remaja memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
"Peran PLKB, dapat berkontribusi melalui penguatan komunikasi, edukasi dan pendampingan keluarga sehingga remaja memiliki lingkungan yang lebih mendukung ketika menghadapi persoalan." Bebernya.
Sedangkan Pelaksana Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Sendana 2, Nasmawati, menyebutkan.Kehadiran untuk memperkuat pesan kesehatan mental remaja membutuhkan pendekatan promotif dan preventif serta dukungan dari lingkungan pelayanan kesehatan.
Pemberian penguatan mengenai pentingnya remaja mengenali kondisi dirinya dan tidak mengabaikan persoalan yang dapat memengaruhi kesehatan jiwa.
"Sebagai penguatan mengenai pentingnya remaja mengenali kondisi dirinya." Sebutnya.
Hal yang sama disampaikan Pelaksana Program Promosi Kesehatan, Efendi, menekankan. Pentingnya promosi kesehatan yang dikemas dengan bahasa dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan remaja.
"Lebih menarik dikemas dengan bahasa yang dekat kehidupan remaja." Tutupnya.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka mengikuti penyampaian materi, berdiskusi, serta merespons pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman mereka sebagai remaja.
Persoalan seperti tekanan tugas, hubungan dengan teman sebaya, penggunaan media sosial dan bagaimana menghadapi situasi yang tidak nyaman menjadi bagian dari percakapan.
Pendekatan ini membuat kegiatan tidak hanya berlangsung satu arah. Mahasiswa dan narasumber juga mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan langsung perspektif siswa.
Bagi praktik keperawatan komunitas, suara remaja menjadi bagian penting dalam memahami kebutuhan kesehatan mereka.
Laporan : Nadi
