![]() |
| Kendaraan asal Sulawesi Barat memilih mengantri di SPBU perbatasan Provinsi, Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. (Foto : NAdi). |
PolewaliTerkini.Net - PINRANG - Antrean kendaraan tidak hanya terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Sulawesi Barat.
Dalam sebulan terakhir, kendaraan asal Polewali Mandar dan Majene juga disebut mulai bergeser ke wilayah perbatasan Sulawesi Selatan untuk mendapatkan BBM.
SPBU Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, menjadi salah satu lokasi yang dipilih pengendara asal Sulbar.
Selain itu, SPBU Bungi, Kecamatan Duampanua, juga disebut menjadi alternatif bagi kendaraan dari wilayah perbatasan Sulsel-Sulbar.
Bagi sebagian pengendara, menempuh perjalanan lebih jauh menjadi pilihan ketika mereka kesulitan mendapatkan BBM di daerah asal.
Saleh, salah seorang pengendara, mengatakan banyak kendaraan asal Polewali Mandar memilih mengisi Pertalite dan Solar di SPBU Binanga Karaeng karena khawatir tidak mendapatkan BBM setelah mengantre di SPBU wilayah Polman.
"Di SPBU di Polman, cepat habis BBM Pertalite. Apalagi kalau antrean kendaraan berada jauh di belakang, tidak dapat bagian BBM. Makanya banyak kendaraan asal Polman dan Majene lebih memilih beli BBM di SPBU perbatasan Sulsel+Sulbar." Katanya.
Menurut Saleh, kondisi serupa juga terlihat di SPBU Bungi. Kendaraan asal Sulbar disebut mulai menjadikan kedua SPBU tersebut sebagai pilihan untuk mendapatkan BBM.
Pada pagi hingga siang hari, sepeda motor dari wilayah Binuang dan Polewali, Polman, disebut cukup banyak terlihat mengantre di SPBU Binanga Karaeng.
"Sama di SPBU Bungi, yang di perbatasan Duampanua dengan Lembang, juga ramai kendaraan dari Polman dan Majene. Terlebih pada pagi sampai siang, motor paling ramai di SPBU Binanga Karaeng." Ujarnya.
Antrean Truk Hingga Bermalam. Bukan hanya sepeda motor dan kendaraan pribadi. Menurut Saleh, kendaraan angkutan barang juga ikut mencari BBM hingga ke wilayah perbatasan.
Para sopir truk pengangkut barang disebut mulai datang pada sore hingga malam hari untuk mengantre mendapatkan Solar. Sebagian bahkan memilih bermalam di sekitar SPBU agar tidak kehilangan antrean.
"Sudah sebulan kendaraan asal Sulbar memilih beli BBM di SPBU Binanga Karaeng, Pinrang. Truk rata-rata sore hingga malam mengantre di SPBU." Jelasnya.
Situasi tersebut menggambarkan bagaimana persoalan ketersediaan BBM di daerah asal dapat memengaruhi mobilitas masyarakat hingga melintasi batas provinsi.
Bagi kendaraan angkutan barang, ketersediaan BBM bukan hanya soal perjalanan pulang-pergi. Solar menjadi bagian penting untuk menjaga distribusi barang tetap berjalan.
Armada Elpiji Ikut Mengisi di Pinrang. Fenomena serupa juga disebut terjadi pada kendaraan pengangkut tabung LPG 3 kilogram dari Polewali Mandar dan Majene.
Saleh mengatakan sejumlah armada agen LPG 3 kilogram asal kedua daerah tersebut juga mengisi BBM di SPBU Binanga Karaeng.
Hal itu karena sejumlah agen LPG di Polman dan Majene mengambil pasokan tabung LPG dari SPBE Binanga Karaeng yang berada di wilayah perbatasan.
"Mobil armada agen elpiji 3 kilogram dari Polman dan Majene juga beli BBM di SPBU Binanga Karaeng. Karena agen gas Polman dan Majene mengisi ulang gas elpiji di SPBE Binanga Karaeng yang ada di perbatasan." Tuturnya.
Perbatasan Menjadi Pilihan. Antrean kendaraan asal Sulbar di SPBU wilayah Pinrang menjadi gambaran lain dari persoalan BBM yang dirasakan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir.
Ketika BBM sulit ditemukan di daerah sendiri, masyarakat mencari titik lain yang dianggap lebih memungkinkan untuk mendapatkan bahan bakar.
Perbatasan provinsi pun berubah menjadi salah satu pilihan.
Bagi pengendara, yang dicari sederhana, BBM tersedia ketika mereka datang dan tidak harus pulang tanpa mendapatkan bahan bakar setelah mengantre berjam-jam.
Namun bagi pemerintah dan pengelola distribusi energi, kondisi ini menjadi gambaran yang perlu dicermati. Sebab ketika kendaraan dari luar daerah mulai bergeser mencari BBM ke wilayah perbatasan, persoalannya tidak lagi hanya tentang panjangnya antrean, tetapi juga tentang bagaimana memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi di kedua wilayah.
Laporan : Nadi
