Iklan

Teror Buaya di Sungai Mandar Kembali Makan Korban, Warga Desak Evakuasi

Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:39 WIB Last Updated 2026-10-29T00:39:19Z

Lima Kali Insiden dalam 10 Bulan,  Lagi! Buaya Terjang Warga di Sungai Mandar, Korban Luka di Tangan, Perut dan Kaki. (Foto : FadliAnt/Nadi).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Teror buaya di Sungai Mandar, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, kembali menimbulkan korban. 


Seorang warga bernama Abdul Jalil alias Laupe (50) mengalami luka di sejumlah bagian tubuh setelah diterkam buaya saat mengambil jaring ikan di sekitar muara sungai, Rabu (28/10/2026) malam.


Korban, warga Dusun Gadde, Desa Tangnga-Tangnga, itu dilaporkan diserang sekitar pukul 22.00 Wita. Beruntung, Dia berhasil lolos setelah rekannya berusaha memukul buaya menggunakan dayung hingga hewan predator tersebut melepaskan gigitannya.


Akibat serangan itu, Laupe mengalami luka pada bagian tangan, perut, kaki, dan sejumlah bagian tubuh lainnya. Korban kemudian ditolong warga dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Majene untuk mendapatkan penanganan medis.


Peristiwa ini kembali memicu keresahan masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Mandar. Warga mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mencegah serangan susulan.


Diserang Saat Mengambil Jaring. Berdasarkan keterangan Haidir Jalil, warga yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan sosial sekaligus mantan Camat Limboro, korban saat itu pergi bersama rekannya, Mansur (48), untuk menjaring ikan di sekitar muara Sungai Mandar.


Setelah memasang jaring, keduanya kembali dan hendak mengambil atau memungut jaring pukat milik mereka. Namun, ketika tiba di pinggir sungai dan korban turun, seekor buaya tiba-tiba menerkamnya.


Haidir menyebut buaya yang menyerang korban diperkirakan berukuran sekitar tiga meter.


Dalam situasi berbahaya tersebut, korban berusaha melawan. Mansur turut membantu dengan memukul buaya menggunakan dayung.


Upaya itu akhirnya membuat buaya melepaskan gigitannya sehingga korban dapat diselamatkan. Meski berhasil lolos, korban mengalami luka dan harus segera mendapatkan pertolongan medis.


Buaya Disebut Sempat Muncul di Saluran Permukiman. Kekhawatiran warga semakin besar karena kemunculan buaya diduga bukan kejadian pertama dalam beberapa hari terakhir.


Menurut Haidir, sekitar tiga malam sebelumnya warga melihat buaya muncul di saluran air yang berada di lingkungan permukiman. 


Warga menduga buaya yang menyerang Laupe berkaitan dengan kemunculan tersebut, meski identitas hewan itu belum dipastikan.


"Tiga malam lalu memang ada muncul buaya di saluran air. Nah, ini memang bahaya kalau biasanya buaya sudah muncul dan masuk ke permukiman, itu sudah tanda-tanda sedang mencari mangsa,." Kata Haidir.


Kemunculan buaya di sekitar permukiman membuat warga semakin khawatir, terutama mereka yang sehari-hari menggantungkan penghidupan pada aktivitas sungai.


Sebagian masyarakat bantaran Sungai Mandar bekerja sebagai nelayan, penambang pasir, serta melakukan berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan sungai. 


Bagi mereka, menghindari sungai sepenuhnya bukan perkara mudah karena aktivitas tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan ekonomi keluarga.


Meski imbauan kewaspadaan telah disampaikan pemerintah kecamatan, aktivitas masyarakat di sekitar sungai masih berlangsung. 


Kondisi ini membuat langkah pencegahan dinilai perlu diperkuat agar warga tidak terus-menerus menghadapi risiko serangan.


Lima Insiden dalam Sepuluh Bulan, Warga Minta Langkah Nyata. Berdasarkan catatan yang disampaikan warga, sejak Januari hingga Oktober 2026 telah terjadi lima insiden kemunculan atau serangan buaya di wilayah tersebut. 


Empat orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara satu korban lainnya, bernama Sappate, meninggal dunia.


Catatan tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama karena kemunculan buaya disebut kembali terjadi di sekitar aliran sungai dan saluran air yang berdekatan dengan permukiman.


Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan penilaian risiko, pemantauan lokasi kemunculan buaya, serta berkoordinasi dengan petugas konservasi satwa liar untuk menentukan langkah penanganan yang aman dan sesuai ketentuan.


Penanganan tidak hanya diperlukan untuk merespons serangan yang sudah terjadi, tetapi juga untuk mencegah warga lain menjadi korban. 


Edukasi mengenai wilayah berisiko, pemasangan peringatan di titik rawan, serta penyampaian informasi cepat kepada masyarakat dinilai penting dilakukan sembari menunggu langkah penanganan lebih lanjut.


Warga Diimbau Mengutamakan Keselamatan. Sambil menunggu langkah pemerintah, masyarakat di sekitar bantaran Sungai Mandar diimbau meningkatkan kewaspadaan.


Warga sebaiknya menghindari aktivitas di sungai, muara, dan saluran air yang diduga menjadi lokasi kemunculan buaya, khususnya pada malam hari.


Warga juga perlu menghindari upaya mendekati, memukul, menangkap, atau mengusir buaya sendiri karena tindakan tersebut dapat memicu serangan. 


Jika melihat buaya, masyarakat sebaiknya segera menjauh, memperingatkan orang di sekitar, dan melaporkannya kepada aparat desa, pemerintah setempat, atau petugas berwenang.


Bagi masyarakat Tinambung yang kehidupannya bergantung pada sungai, persoalan ini bukan sekedar gangguan satwa liar. Ini menyangkut keselamatan jiwa sekaligus keberlangsungan mata pencaharian warga.


Karena itu, masyarakat berharap keresahan yang kembali muncul setelah serangan terhadap Laupe segera ditindaklanjuti dengan langkah nyata dan terkoordinasi, agar warga dapat beraktivitas dengan lebih aman tanpa terus dibayangi ancaman terkaman buaya.


Laporan : FadliAnt/Nadi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Teror Buaya di Sungai Mandar Kembali Makan Korban, Warga Desak Evakuasi

Trending Now

Iklan

iklan