Iklan


 

Paman Tikam Ponakan di Pasar Batetangnga, Masalah Sepele Berujung Bahaya, Bagaimana Mencegahnya?

Minggu, 07 Juni 2026 | 12:26 WIB Last Updated 2026-06-07T04:27:09Z

Masalah Sepele Berujung Kekerasan, Kasus Penikaman Keluarga di Binuang, Perlu Solusi Pencegahan Bagi Warga Desa. (Foto : Humas Polres Polman).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Suasana pagi yang biasanya ramai dan akrab di Pasar Batetangnga, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, tiba-tiba berubah menjadi tegang dan penuh kepanikan. 


Pada pukul 06.15 WITA, suara teriakan warga memecah keheningan pagi, menyusul peristiwa penganiayaan yang tidak terduga, bahkan terjadi antara orang yang masih memiliki ikatan darah.

 

Seorang pria berusia 66 tahun berinisial (AT), yang merupakan paman dari korban, diduga nekat menikam (WR) berusia 56 tahun menggunakan pisau dapur. 


Tindakan kejam itu dilakukan bukan karena perselisihan besar, bukan karena sengketa tanah atau harta benda yang bernilai tinggi, melainkan karena alasan yang sangat sepele namun sering dianggap remeh oleh banyak orang di lingkungan desa.


Dari keterangan dihimpun korban sengaja menghindari pelaku karena pelaku selalu datang meminta uang dan rokok secara terus-menerus.

 

Rasa tersinggung yang dipendam pelaku karena kerabatnya sendiri selalu menjauh, akhirnya meledak menjadi kemarahan yang tidak terkendali. 


Dalam sekejap, masalah kebiasaan meminta-minta yang seharusnya bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik, berubah menjadi peristiwa yang mengancam nyawa. 


Korban menderita sejumlah luka tusukan dan harus segera dievakuasi warga ke RSUD Andi Depu Polewali untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

 

Beruntung, respon cepat dari kepolisian mencegah keadaan menjadi lebih buruk. Personel Polsek Binuang yang dipimpin langsung Kapolsek IPTU H. Rahman, S.Sos., bersama tim gabungan Polres Polewali Mandar segera tiba di lokasi sesaat setelah menerima laporan. 


Pelaku berhasil diamankan di tempat kejadian, berserta barang bukti berupa pisau dapur yang digunakan dan pakaian yang dipakainya saat melakukan tindakan kejahatan. 


Kini, pelaku sudah diserahkan ke Satreskrim Polres Polewali Mandar untuk menjalani seluruh proses hukum yang berlaku.

 

"Masih kami dalami seluruh kronologi dan motif secara lengkap, namun dari keterangan korban yang sudah kami konfirmasi, memang inti masalahnya karena korban selalu menghindar. Pelaku sering datang meminta uang maupun rokok, dan rasa dihindari itu membuatnya tersinggung hingga bertindak nekat." Ungkap IPTU H. Rahman.

 

Di Balik Peristiwa, Masalah Kecil yang Sering Diabaikan Warga Desa

 

Kasus ini menjadi cermin nyata dari persoalan yang sering terjadi di lingkungan masyarakat pedesaan, namun jarang ditangani sejak awal, kebiasaan meminta-minta yang berlebihan, dan ketidakmampuan menyelesaikan rasa sakit hati dengan cara yang baik.

 

Banyak warga yang merasa tidak enak hati untuk menolak permintaan kerabat atau tetangga, lalu memilih jalan keluar dengan menghindari orang tersebut. 


Padahal, sikap menghindari tanpa penjelasan yang jelas justru bisa memicu rasa tersinggung, curiga, hingga kemarahan yang menumpuk lama. 


Belum lagi kurangnya wadah untuk berbicara dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, membuat perasaan negatif itu tumbuh menjadi tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

 

Tidak hanya itu, mudahnya akses terhadap senjata tajam seperti pisau dapur yang biasa ada di rumah maupun tempat usaha, juga menjadi faktor yang memperparah keadaan. 


Saat emosi sudah tidak bisa dikendalikan, benda yang seharusnya hanya untuk kebutuhan sehari-hari bisa berubah menjadi alat yang mengancam nyawa sesama.


Suasana Tempat Kejadian Perkara Penikaman di Batetangnga, Binuang, Polman, Sulbar. (Foto : Humas Polres Polman).

Solusi Pencegahan, Agar Masalah Sepele Tidak Berujung Darah

 

Bagi seluruh warga, tokoh masyarakat, hingga para pemangku kebijakan di desa, kasus ini menjadi peringatan keras, masalah kecil yang dibiarkan akan tumbuh menjadi masalah besar. 


Berikut Langkah-langkah Pencegahan Yang Bisa Diterapkan Bersama

 

1. Bicara Terbuka, Jangan Hanya Menghindari


Jika merasa terganggu dengan kebiasaan seseorang, baik kerabat maupun tetangga, sampaikan dengan bahasa yang sopan, jujur, dan penuh kekeluargaan. 


Katakan apa yang dirasakan dan batasan yang dimiliki, agar tidak timbul kesalahpahaman atau rasa tersinggung di pihak lain. 


Menghindari diam-diam hanya akan menimbulkan rasa curiga dan dendam yang terpendam.

2. Ajarkan Etika dan Batasan Saling Menghargai


Di lingkungan desa, tanamkan kesadaran bahwa meminta bantuan itu boleh, tetapi harus tahu batasan dan tidak dilakukan secara terus-menerus yang mengganggu kenyamanan orang lain. 


Sebaliknya, menolak permintaan juga boleh dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hati.

3. Gunakan Jalur Kekeluargaan atau Tokoh Masyarakat


Jika sudah timbul rasa tidak nyaman atau perselisihan, segera sampaikan kepada ketua RT/RW, kepala desa, atau tokoh agama dan tokoh masyarakat. 


Selesaikan masalah bersama secara damai sebelum perasaan marah meledak dan tidak bisa dikendalikan. Jangan biarkan masalah disimpan sendiri.

4. Jaga dan Batasi Akses Senjata Tajam


Simpan benda tajam seperti pisau, parang, atau benda keras lainnya di tempat yang aman dan tidak mudah diambil saat sedang emosi. 


Hal sederhana ini bisa mencegah tindakan nekat yang dilakukan hanya karena terbawa amarah sesaat.

5. Jaga Kesehatan Mental dan Kendalikan Emosi


Ajarkan diri sendiri dan orang di sekitar untuk mengenali tanda-tanda kemarahan yang meluap. 


Saat merasa sangat marah, sebaiknya menjauh sejenak dari orang yang bersangkutan, menenangkan pikiran, baru kemudian berbicara saat sudah tenang.

 

Pesan Penting Dari Kepolisian

 

Polres Polewali Mandar kembali mengimbau seluruh lapisan masyarakat, bahwa setiap masalah sekecil apapun, baik dengan kerabat maupun tetangga harus diselesaikan dengan cara yang baik, kekeluargaan, dan sesuai aturan hukum. 


Tindakan kekerasan apapun alasannya, tidak akan pernah dibenarkan dan pasti akan mendapatkan sanksi hukum yang tegas.

 

"Keamanan dan ketertiban desa adalah tanggung jawab kita semua. Jangan sampai ikatan darah, persaudaraan, atau persahabatan hancur hanya karena masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik." Tutup IPTU H. Rahman.

 

Sampai saat ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyidikan mendalam oleh tim Satreskrim Polres Polewali Mandar untuk mengungkap seluruh fakta dan menuntaskan perkara sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Untuk Warga dan Pemangku Desa


Mari kita jaga kedamaian bersama, selesaikan masalah sejak dini, agar kejadian serupa tidak terulang kembali di lingkungan kita.


Laporan : Sukriwandi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Paman Tikam Ponakan di Pasar Batetangnga, Masalah Sepele Berujung Bahaya, Bagaimana Mencegahnya?

Trending Now

Iklan

iklan