![]() |
| Mahasiswa dan tim dosen STIKES Marendeng Majene melakukan pengkajian terhadap Lansia, di Desa Palipi Soreang, Kabupaten Majene. (Foto : Nadi). |
PolewaliTerkini.Net - MAJENE - Mereka masih tersenyum ketika menyapa tetangga. Masih duduk di beranda rumah setiap sore, bahkan sesekali bercanda dengan cucu.
Namun di balik senyum itu, banyak lansia ternyata menyimpan rasa sepi yang tak pernah terucap.
Fakta itulah yang ditemukan tim dosen dan mahasiswa STIKES Marendeng Majene setelah melakukan pengkajian terhadap 103 lanjut usia (lansia) di Desa Palipi Soreang, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene.
Hasilnya cukup mengejutkan, sekitar 81,6 persen lansia berada pada tingkat kesepian sedang, sebuah kondisi yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental maupun fisik jika tidak mendapat perhatian.
Temuan tersebut menjadi titik awal lahirnya sebuah gerakan yang tidak hanya berbicara soal merawat tubuh lansia, tetapi juga menjaga kesehatan jiwa mereka.
Pada Kamis, 16 Juli 2026, STIKES Marendeng akan menggelar Workshop Caregiver Lansia di Kantor Desa Palipi Soreang dengan mengusung pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.
Ketua pelaksana kegiatan, Fredy Akbar, menjelaskan bahwa persoalan lansia sering kali dipandang sebatas penyakit fisik. Padahal, kehilangan pasangan hidup, berkurangnya aktivitas, hingga minimnya interaksi sosial menjadi beban emosional yang tidak kalah berat.
"Kesepian pada lansia sering tidak terlihat. Mereka tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang menghadapi tekanan psikologis. Karena itu keluarga perlu dibekali kemampuan memberikan dukungan emosional sejak dini." Ujarnya.
Menurut Fredy, keluarga merupakan pihak yang paling dekat dengan lansia. Sayangnya, sebagian besar anggota keluarga belum pernah memperoleh pelatihan tentang cara berkomunikasi secara empatik maupun mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis pada orang tua mereka.
Melalui workshop tersebut, para peserta akan dibekali materi mengenai kesehatan jiwa lansia, prinsip-prinsip Psychological First Aid, teknik komunikasi yang menenangkan, hingga simulasi menghadapi berbagai persoalan yang kerap dialami lansia di lingkungan keluarga.
Pelatihan ini akan menghadirkan Psikiater RSUD Hajja Andi Depu, dr. Nur Asyik, Sp.KJ., M.Kes., yang akan membahas pentingnya deteksi dini gangguan kesehatan jiwa pada lansia serta peran keluarga dalam proses pemulihan.
Sementara materi tentang penguatan Desa Ramah Lansia akan disampaikan langsung oleh dosen STIKES Marendeng, Fredy Akbar K., S.Kep., Ns., M.Kep.
Workshop akan diikuti sekitar 30 peserta, terdiri atas caregiver keluarga, kader kesehatan, perangkat desa, dan masyarakat yang selama ini mendampingi para lansia.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen STIKES Marendeng Majene dalam memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat melalui kolaborasi dengan Pemerintah Desa Palipi Soreang.
Fredy berharap para peserta tidak hanya mampu merawat kebutuhan fisik lansia, tetapi juga memahami cara memberikan dukungan psikologis sederhana sebelum mendapatkan bantuan tenaga profesional.
Di sisi lain, tantangan ini bukan hanya dihadapi Desa Palipi Soreang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia kini telah memasuki fase ageing population, yaitu ketika jumlah penduduk lanjut usia telah melampaui 10 persen dari total populasi.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental lansia tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan keluarga semata, melainkan bagian dari pembangunan sosial yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
Melalui pelatihan ini, STIKES Marendeng bersama Pemerintah Desa Palipi Soreang berharap lahir lebih banyak caregiver yang mampu menjadi pendamping sekaligus sahabat bagi para lansia.
Sebab, bagi sebagian orang tua, yang paling dibutuhkan di masa senja bukan hanya obat dan perawatan, tetapi juga seseorang yang mau mendengar, memahami, dan memastikan mereka tidak menjalani hari-harinya dalam kesepian.
Laporan : Nadi

