![]() |
| Puluhan pelajar peserta upacara HUT ke 81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Wonomulyo mengalami Pingsan, ditangani tim medis. (Foto : Nadi). |
PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Khidmatnya upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Senin (17/08/2026), mendadak berubah menjadi kepanikan.
Satu per satu peserta upacara, yang mayoritas pelajar SMP dan SMA, tumbang di tengah barisan. Cuaca panas sejak pagi, berdiri dalam waktu cukup lama, serta kondisi sebagian pelajar yang belum sarapan diduga menjadi pemicu gangguan kesehatan tersebut.
Tim medis bahkan sempat kewalahan. Lebih dari 20 peserta dilaporkan mengalami pingsan, sementara sekitar 10 hingga 12 pelajar harus dilarikan ke Puskesmas Wonomulyo dan Puskesmas Kebun Sari untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Peserta lainnya ditangani langsung di lokasi.
Petugas kesehatan Puskesmas Wonomulyo, Herniati, mengatakan sebagian besar pelajar datang ke lokasi upacara dalam kondisi belum mengonsumsi sarapan.
Menurutnya, kondisi tersebut diperberat oleh cuaca yang panas dan lamanya peserta mengikuti rangkaian upacara.
"Ada lebih dari 20 peserta yang pingsan. Sekitar 10 sampai 12 orang dibawa ke puskesmas, sementara lainnya ditangani di lokasi. Umumnya karena belum sarapan dan datang terlalu pagi, kemudian kondisi cuaca cukup panas." Jelasnya.
Peserta yang mengalami kondisi lebih berat langsung dievakuasi menggunakan ambulans. Sementara mereka yang masih dapat ditangani di tempat dibawa ke Masjid Merdeka Wonomulyo untuk mendapatkan pertolongan.
Situasi sempat membuat petugas medis kewalahan karena beberapa peserta mengalami pingsan hampir bersamaan. Tandu pun harus digunakan secara bergantian.
Meski demikian, petugas kesehatan dari Puskesmas Wonomulyo dan Puskesmas Kebun Sari yang masing-masing menurunkan personel tetap berupaya memberikan penanganan secepat mungkin.
Mereka juga mendapat bantuan dari anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMP Negeri 1 Wonomulyo yang turut membantu mengevakuasi peserta dari barisan menuju lokasi pertolongan.
Menunggu MBG, Sarapan di Rumah Ditinggalkan. Di balik kejadian tersebut muncul cerita lain yang patut menjadi perhatian bersama.
Sejumlah pelajar mengaku tidak sarapan di rumah karena terbiasa mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG) ketika berada di sekolah.
Salah seorang peserta, Rizal, mengatakan dirinya sempat kehilangan kesadaran setelah merasa pusing saat mengikuti upacara.
"Tidak sarapan di rumah karena langsung berangkat sekolah. Biasanya sarapan menunggu MBG di sekolah. Tapi karena langsung ke lapangan untuk upacara, makanan belum ada dan akhirnya saya pusing." Ungkapnya.
Kondisi ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan kegiatan sekolah yang berlangsung di luar jadwal makan MBG.
Program MBG tentu diharapkan membantu pemenuhan gizi pelajar, tetapi jangan sampai kebiasaan menunggu makanan di sekolah membuat anak berangkat dalam kondisi perut kosong ketika harus mengikuti kegiatan sejak pagi.
Karena itu, orang tua tetap perlu memastikan anak-anak sarapan atau setidaknya memperoleh asupan yang cukup sebelum berangkat mengikuti kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik dan konsentrasi.
Di sisi lain, pemerintah dan pengelola program MBG juga perlu memastikan jadwal distribusi makanan tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah atau agenda besar seperti upacara, olahraga dan kegiatan lapangan lainnya.
Peristiwa di Wonomulyo menjadi pengingat bahwa program pemenuhan gizi tidak cukup hanya berbicara mengenai menu makanan. Waktu pemberian, kesiapan peserta didik dan kondisi kegiatan juga harus menjadi bagian dari perhatian.
Upacara kemerdekaan seharusnya menjadi momentum membangkitkan semangat generasi muda. Jangan sampai semangat itu justru terhambat karena persoalan sederhana yang sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal, anak berangkat tanpa sarapan, sementara makanan yang diharapkan belum tersedia.
Bagi para orang tua, pesan dari kejadian ini sederhana, jangan biarkan anak berangkat dalam kondisi perut kosong hanya karena berharap mendapatkan makanan di sekolah.
Dan bagi penyelenggara pendidikan serta pemerintah, kejadian tersebut layak menjadi bahan evaluasi agar MBG benar-benar menjadi program yang mendukung kesehatan dan kesiapan belajar anak, bukan tanpa sengaja menciptakan ketergantungan pada waktu makan tertentu.
Laporan : Nadi
