Iklan


 

Korban Bom Ikan Kembali Terjadi, Aktivis Lingkungan Minta Pemerintah Hadir Beri Solusi untuk Nelayan

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:52 WIB Last Updated 2026-05-16T08:29:11Z

Ketua Komunitas Sahabat Penyu, Muhammad Yusri. Meminta pemerintah lebih serius menangani persoalan bom ikan. Agar tidak kembali terulang di Kabupaten Polman. (Foto : Adi).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Kasus nelayan menjadi korban sekaligus pelaku pembuat bom ikan kembali terjadi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. 


Kali ini seorang nelayan inisial HRS (47) asal Pulo Battoa, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman. Mengalami luka serius akibat ledakan bom ikan, saat merakit di rumahnya dan kini harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Depu Polewali.


Dari bisik-bisik Lego-lego atau paceko warga Pulo Battoa yang enggan disebut namanya mengatakan, korban HRS (47) sedang merakit bom di rumahnya di kampung Timoramg. Tiba-tiba bom tersebut meledak dan melukai tubuhnya.


Peristiwa tersebut menambah panjang daftar korban akibat praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak yang hingga kini masih terus terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Polman, khususnya di kalangan sebagian nelayan Pulo Battoa, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman.


Terkait itu Kepala Desa Tonyaman, Nursan membenarkan kejadian tersebut. Kata dia, praktik bom ikan di wilayah perairan pulau Battoa dan sekitarnya sudah lama terjadi. Dia pun berharap agar pihak terkait bisa memberikan perhatian dan solusi agar praktik bom ikan tidak terjadi kembali.


Sementara itu, Kepolisian setempat juga telah melakukan olah TKP di lokasi kejadian, sejumlah barang bukti juga telah diamankan polisi. Informasi dihimpun, kasus ini masih dalam penyelidikan.


Menanggapi kejadian tersebut, Ketua komunitas Sahabat Penyu sekaligus pegiat lingkungan, Muhammad Yusri, menyatakan. Meminta pemerintah setempat dan pihak terkait, agar lebih serius menangani persoalan bom ikan secara menyeluruh.


Bukan hanya melalui penindakan hukum semata. Apalagi praktik bom ikan tidak hanya membahayakan keselamatan nelayan sendiri, tetapi juga merusak ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir dalam jangka panjang.


"Kasus seperti ini terus berulang dan selalu memakan korban. Artinya ada persoalan yang belum benar-benar diselesaikan. Pemerintah harus hadir memberi solusi nyata kepada nelayan agar mereka tidak lagi bergantung pada cara-cara penangkapan yang merusak dan membahayakan diri sendiri." Ujarnya.


Dia menilai, selama ini upaya yang dilakukan masih dominan pada sisi pengawasan dan penindakan oleh aparat. Sementara aspek pemberdayaan dan solusi ekonomi alternatif bagi nelayan masih sangat minim.


"Kalau hanya penindakan dan patroli tanpa solusi lain, saya rasa akan sulit membuat mereka berhenti. Nelayan perlu dibina, diberi pendampingan, bantuan alat tangkap ramah lingkungan, akses ekonomi, dan edukasi tentang dampak kerusakan laut akibat bom ikan." Harapnya.


Dia menegaskan, dampak bom ikan sangat besar terhadap keberlangsungan ekosistem laut. Ledakan bom dapat menghancurkan terumbu karang, membunuh biota laut, hingga merusak kawasan pesisir yang selama ini menjadi tempat berkembang biaknya ikan.


"Bom ikan ini sangat merusak. Terumbu karang hancur dalam hitungan detik, padahal memulihkannya bisa puluhan tahun. Kalau laut rusak, yang rugi sebenarnya masyarakat nelayan sendiri dan generasi mendatang." Ucapnya


Dia berharap kejadian korban bom ikan yang kembali terjadi tersebut, menjadi perhatian serius seluruh pihak untuk segera mencari solusi bersama demi keselamatan nelayan dan kelestarian laut Kabupaten Polman.


"Bom ikan menjadi perhatian seluruh pihak mencari solusi bersama demi keselamatan nelayan dan kelestarian laut kita." Tutupnya


Laporan : Nadi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Korban Bom Ikan Kembali Terjadi, Aktivis Lingkungan Minta Pemerintah Hadir Beri Solusi untuk Nelayan

Trending Now

Iklan

iklan