![]() |
| Proyek revitalisasi SMPN 4 Polewali senilai Rp. 2,2 Miliar. (Foto : Ahmad Gazali). |
PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Program bantuan pemerintah melalui revitalisasi sekolah tahun 2026 di SMPN 4 Polewali menuai kontroversi.
Proyek rehabilitasi sekolah senilai Rp. 2,2 Miliar itu diduga dikerjakan tidak sesuai gambar bestek perencanaan yang telah disusun konsultan.
Program revitalisasi satuan pendidikan tersebut berasal dari Direktorat Sekolah Menengah Pertama Direktorat PAUD Dasmen Kementerian Dikdasmen tersebut merupakan pokok pikiran (Pokir) anggota DPR RI Dapil Sulbar, Ratih Megasari Singkarru.
Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) SMPN 4 Polewali, H. Ishak, mengakui adanya perbedaan antara gambar bangunan dan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dalam proyek revitalisasi tersebut.
![]() |
| Proyek revitalisasi SMPN 4 Polewali senilai Rp. 2,2 Miliar. (Foto : Ahmad Gazali). |
Menurutnya, hal itu membuat pemasangan jenis besi dan rangka atap tidak mengikuti gambar konsultan perencana.
"Pada gambar memang tertera menggunakan besi ulir, tapi RAB tertulis besi ulir atau polos, Jadi saya ikuti RAB yang mengatakan bisa gunakan besi polos." Kata Ishak saat ditemui di lokasi SMPN 4 Polewali, beberapa waktu lalu.
Dia juga mengungkapkan bahwa dirinya bukan anggota komite sekolah, namun ditunjuk langsung oleh kepala sekolah sebagai Ketua P2SP, sebab Dia memiliki hubungan kedekatan dengan Kepsek SMPN 4 Polewali serta pengalaman pernah jadi rekanan pemerintah di bidang kontruksi,
"Ini P2SP, di-SK-kan oleh kepsek. Saya sudah ikut Bimtek di Jakarta, kebetulan kepala sekolah temanku main domino." Ujarnya.
![]() |
| Proyek revitalisasi SMPN 4 Polewali senilai Rp. 2,2 Miliar. (Foto : Ahmad Gazali). |
Ishak mengaku terlibat langsung dalam pengadaan material hingga perekrutan tenaga kerja proyek revitalisasi sekolah tersebut."
Buruh bangunan saya yang panggil dan bayar upahnya, material bangunan saya yang pesan dan bayar, bahkan saya sudah pesan tegel sebanyak satu kontainer dari Surabaya." Tuturnya.
Lebih lanjut, Ishak berdalih setiap proyek pembangunan memungkinkan adanya perubahan pekerjaan melalui adendum. Dia bahkan menyebut konsultan perencana bisa saja keliru dalam menggambar maupun menyusun spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi.
"Memang besi yang tersigma 9,5 atau 9,7 itu sudah masuk kategori besi 10. Meskipun pada gambar tertulis besi ulir, saya tetap gunakan besi polos karena ada keterangan di RAB tertulis besi ulir atau polos." Ungkapnya.
Tak hanya itu, Ishak juga mengaku proses pengadukan semen dan pasir pada proyek revitalisasi masih dilakukan secara manual menggunakan sekop oleh para pekerja bangunan. Mesin molen, kata dia, baru akan digunakan saat pekerjaan lantai dimulai.
![]() |
| Proyek revitalisasi SMPN 4 Polewali senilai Rp. 2,2 Miliar. (Foto : Ahmad Gazali). |
"Sementara direksi keet kita gunakan bangunan kantin sekolah. Dan kalau tidak salah, saya sudah enam kali ambil uang di kepala sekolah untuk keperluan revitalisasi sekolah." Pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 4 Polewali, Kamal, mengungkapkan kantin sekolah akan dijadikan direksi keet atau kantor lapangan proyek revitalisasi SMPN 4 Polewali.
"Untuk sementara kantin sekolah kita rencanakan jadikan direksi keet." Tuturnya.
Dari pantauan di lapangan, konsultan perencana maupun konsultan pengawas jarang terlihat berada di lokasi proyek.
Padahal, dalam dokumen RAB revitalisasi SMPN 4 Polewali yang dimiliki P2SP, tercatat anggaran jasa perencanaan mencapai Rp. 31 Juta lebih, sedangkan biaya pengawasan sebesar Rp. 34 juta.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait pengawasan teknis proyek revitalisasi sekolah di Polman serta dugaan ketidaksesuaian gambar pekerjaan dengan spesifikasi konstruksi yang telah dirancang sejak awal.
Laporan : Ahmad Gazali




