PIFAF 2017

Minggu, 12 November 2017

Ilustrasi
POLEWALITERKINI.NET – Perkenalkan nama saya Bie, saya biasa dipanggil Bi oleh keluarga dan teman-teman saya, saya adalah anak desa di salah satu kabupaten di sulawesi barat, polewali mandar namanya.

Culture pedesaan yang melekat kental, seperti menghargai orang yang lebih tua, polos, dan juga gaptek mewarnai diri saya dari kanak-kanak hingga menginjak kelas 3 SMA.

Orang tua yang bekerja sebagai petani, merupakan salah satu sentral pendidikan karakter saya, culture petani yang pekerja keras, sabar, dan juga komitmen pula yang mewarnai diri ini.

Di akhir-akhir masa ABG (SMA), pernah saya bercanda, dengan menceritakan cita-cita saya yang ingin menjadi seorang Profesor, ilmuan ternama kepada mamak saya, dengan latar pemandangan ditengah sawah di hamparan padi yang menguning dan belum disangking, dan dipersaksikan rumput ilalang yang melenggok lenggok diterpa angin, tawa kecil disertai senyuman diakhir, mengembang di wajah wanita yang melahirkanku, seraya berkata.

"oooh mau qi kuliah nak?"

Mendengar jawaban dari mamakku, membuat diriku ini terperanjat dari tempat dudukku, karena pertanyaan itu sebenarnya hanyalah sebuah guyonan semata, meskipun ada niat untuk itu, hingga pada akhirnya ku jawab pertanyaan itu dengan polos.

"iyye mak" singkatku, "iyya pale nak...kuliah maqi," jawab mamak ku singkat pula.

Aku benar benar tahu, kalau dana dari ke 2 orang tua ku yang bekerja seorang petani itu, tak akan mencukupi, namun karena niatannya untuk menyekolahkanku begitu besar, apalagi aku ini anak tunggal, ia rela berhutang kesana kemari untuk menyekolahkanku, sebab ia yakin, anaknya tak akan mengikuti jalannya, ia ingin anaknya lebih baik.

Maka, singkat cerita, kuliahlah aku disalah satu PTN di Makassar, dalam pikiranku, kuliah itu ditiap harinya akan ada hal menarik dalam kancah intelektual, seperti contohnya, diskusi, debat, lomba-lomba, seminar-seminar dan lain sebagainya, namun pemikiran yang telah kubangun itu runtuh, melihat teman-temanku kebanyakan Apatis terhadap pendidikan, Hedonis, bahkan ada yang materialis.

Hal itu sebenarnya dapat kuhindari, namun karena efek dari teman-temanku yang begitu besar, aku akhirnya tumbang, aku terseret ke zona itu. Aku tak peduli lagi dengan kuliah, dan bahkan sering kali bolos untuk pergi jalan-jalan dengan ajakan teman-temanku, aku sering boros dengan membeli sesuatu yg sebenarnya tidak aku butuhkan, dan aku Apatis terhadap diriku, aku jarang sholat dan lain sebagainya.

Hingga, terjadi suatu peristiwa, dimana Bi melihat seorang laki-laki tua, buta duduk mengemis disalah satu pinggir toko di Makassar. Bi ternyata masih ada rasa ibanya, ia pun menyodorkan uang receh kepada pengemis itu.

Tak seperti temannya yang langsung pergi, bi mendengar suara hatinya yang berbicara bahwa ia harus duduk disitu, berbicara dengan laki-laki itu, maka bi pun mengikuti hatinya. Ia duduk, bercerita bersama laki-laki tua itu, meninggalkan teman-temannya yang sudah jauh meninggalkan.

Bi:" pak...kenapa qi mengemis?" Tanya bi penasaran.

Pengemis : "saya mengemis, karna saya tak punya pekerjaan nak, dan saya tdak memiliki keluarga lagi" jawab pengemis tua yang buta itu.

Bi:" memang kenapa dengan keluarga bapak?" tanyanya.

Pengemis: "dulu memang saya mempunyai seorang anak laki-laki nak, ia yang mengurusi saya di Makassar ini, ia seorang mahasiswa juga...anak seorang mahasiswa??" tanya pengemis itu
Bi:" ohh...iyaa saya mahasiswa"

Pengemis: ohh...anak saya itu hilang nak, tidak tahu kemana...saya sedihh nak, sedih sekali" terlihat air mata sang pengemis buta itu menetes tatkala berbicara.

Melihat kesedihan mulai menyelimuti pengemis itu, bi langsung saja memotong pembicaraan pengemis itu.

Bi: "anak bapak insayAllah datang pak...saya doakan ia akan datang" tegas bi.

Dalam kondisi itu, bi langsung tersentuh relung hatinya, ia mengingat kembali orang tuanya dikampung, ia merasa seperti anak pengemis itu, ia menghilang dari khitahnya "berPendidikan" dan malah mementingkan egonya, ia seperti telah keliru bahkan salah memilih jalan, dan menghilang.

Bi yang tercerahkan itu pun pamit ke pada pengemis tua itu, dan langsung menuju ke Kos nya, ia merenungi kesalahan-kesalahan yang ia telah lakukan, disudut kamarnya, ia mengingat surat dari mamaknya di Sulbar yang terletak di bilik lemarinya, maka dengan cepat ia pun mencarinya, dan seketika, ditangannya telah berada kertas lusuh yang sobek bagian pinggir, bertulis tangan orang yang paling ia sayang. MAMAKNYA.

"Bi...kamu sekarang sudah kuliah nak....

Pesan mama, janganlah kamu boros boros di sana....belilah yang kamu perlu saja...

Dan carilah teman yang baik baik, jangan lupa sholat juga nak....

Disini mamak terus mendoakanmu.

Dari mamakmu di Sulbar"

Seketika itupun, anak lelaki yang hedonis, apatis dan juga materialistis yang tersesat itu pun meneteskan air mata layaknya seorang bayi yang baru dilahirkan, ia sadar betul, bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan, dan kesalahan itu harus cepat2 ia perbaiki.

Bi pun kemudian mengambil Handphonenya dan menelepon ke Sulbar ke MAMAKNYA yang ia sangat sayangi.

Kringgg.....kringg....

Mamak: "Halo...Bie...kenapa baru nelpon nak?"

Bi: "iyye mak...bi minta maaf"

Mamak: "kenapa kamu menangis? Ada apa bie???" terdengar suara mamak bi terkejut risau mendengar suara anaknya parau.

Bie: " bi minta maaf mak...atas apa yang bi lakukan selama ini, pokoknya bi minta maaf mak" berkata bi sambil tersedu sedu.

Mamak:" iyya nak....saya maafkan kamu"

Dan ternyata disini, kontak batin antara anak dan ibu terjalin, mamak bie tak mempertanyakan kenapa bi menangis, karna mamak bi seakan tahu apa permasalahn bi....ia tersesat, namun sekarang ia telah kembali.

Bi:"terima kasih mak...usayanggi sannal o mak, barakka ta mak..."

Mamak:" iyye nak..."

Bi: "assalamualaikum"

Mamak: " waalaikum salam"...

Dari percakapan singkat itu, bi seakan terlahir kembali dari dunia yang kelam, ia sadar tujuan dan cita citanya kembali.

Hari hari selanjutnyapun ia jalani dengan positif, hal-hal yang berbau negatif ia mulai tinggalkan, teman-temannya yang telah membimbingnya ke jalan salah itu mulai ia jauhi dengan cara kesopanan tentunya.

Ia kembali meniti hari, dan sekarang bi telah menginjak semester 5, bi yang dulu pemalas, suka bolos, dan kurang aktif, mulai berubah sikapnya, ia aktif dikelas sekarang, bahkan menjadi diberi amanah menjadi Ketua di jurusannya, ia bak kupu-kupu, yang dahulu berbentuk ulat yang menjijikan dan menggelikan, berubah menjadi kupu kupu yang indah dan enak dipandang.

Bi telah sadar, sadar bahwa memang pengaruh dari luar diri adalah momok yang sangat menakutkan, dan juga merupakan kekuatan yang tak tertandingi, dan disinilah kita memilih.....!!!

Pesan dari bie seorang pemuda Sulbar "PILIHLAH!!!! Menjadi abu, atau menjadi berlian."

Akhirul kalam, jazakumullah...Wallahul muafiq ilaa aqwamieth tarikh...Summa Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

#03:40
#Polewali, Jumat/3/11/2017
#MuhammadWahyuHidayat
#Penulis Amatir
#SemesterV Fai Unasman
Source Picture: https://www.flickr.com/photos/teguh_ardiansyah/11646696534