PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Reruntuhan tanah, batang kayu yang terbawa arus, dan puing-puing rumah warga menjadi pemandangan menyedihkan yang tersisa di sejumlah wilayah Polewali Mandar pasca diterjang banjir dan tanah longsor.
Kecamatan Matangnga menjadi salah satu wilayah yang paling parah merasakan amarah alam ini. Di mata warga, luapan air yang membawa material longsor dan gelondongan kayu itu bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan jawaban keras dari alam atas perlakuan manusia terhadap lingkungan.
Banyak yang menyimpulkan bencana ini murni akibat curah hujan tinggi. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada kisah lain yang lebih menyakitkan di balik musibah tersebut.
Bencana ini sesungguhnya adalah akumulasi dari aktivitas pembukaan lahan liar, penebangan pohon secara besar-besaran, hingga alih fungsi kawasan hutan yang tidak lagi memperhatikan keseimbangan ekosistem.
Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai spons raksasa penyerap air hutan, kini berubah menjadi tanah gundul yang mudah tergerus air.
Muhammad Yusri, pegiat lingkungan sekaligus pendiri komunitas Sahabat Penyu, menegaskan, bahwa kerusakan lingkungan terjadi saat ini adalah pemicu utama meningkatnya risiko bencana di Polman.
Menurutnya, hilangnya vegetasi di kawasan hulu telah memutus mata rantai keseimbangan alam.
"Ketika kawasan hutan dan daerah resapan mulai rusak, maka kemampuan alam menahan air juga berkurang drastis. Akibatnya, saat hujan deras turun, air tidak lagi terserap ke dalam tanah, melainkan meluncur deras membawa tanah dan kayu gelondongan ke pemukiman. Banjir dan longsor pun menjadi hal yang sangat mudah terjadi." Ungkap Yusri dengan nada prihatin.
Dia menjelaskan, akar masalahnya ada pada hilangnya daya ikat tanah akibat penebangan pohon yang masif.
Tanah yang gundul tak lagi memiliki pegangan, sehingga setiap tetes air hujan yang turun langsung berubah menjadi aliran deras yang merampas keamanan warga di bawahnya.
"Saat air hujan mengalir ke permukiman tanpa proses resapan, air membawa material tanah yang memicu longsor, ditambah lagi dengan kayu-kayu gelondongan yang menjadi senjata alam untuk merusak apa saja yang dilaluinya." Tegasnya.
Tuntutan Tanggung Jawab, Pembangunan Tak Boleh Mengorbankan Nyawa
Melihat derita yang dialami masyarakat, Yusri menyampaikan pesan keras sekaligus harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan seluruh instansi terkait.
Di sini lah letak pertanyaan besar yang harus dijawab oleh para pemangku kebijakan, Apakah pembangunan harus dibayar dengan kerusakan alam dan keselamatan rakyat?
Dia menilai, hingga saat ini pendekatan pembangunan yang dilakukan masih terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi jangka pendek.
Namun, melupakan aspek keberlanjutan dan keselamatan lingkungan. Padahal, konsep pembangunan berkelanjutan adalah keharusan, bukan sekadar slogan.
"Sangat mendesak bagi pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret dan tegas. Jangan hanya bertindak saat bencana sudah terjadi dan masyarakat sudah menjadi korban. Pengawasan terhadap pembukaan lahan harus diperketat, penegakan hukum terhadap penebangan liar harus tanpa pandang bulu, dan perencanaan tata ruang harus benar-benar berpihak pada kelestarian alam." Ujarnya.
Yusri mengingatkan kembali bahwa hakikat pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.
Tapi, jika pembangunan tersebut justru merusak lingkungan dan menimbulkan bencana yang merugikan rakyat, maka pembangunan itu telah kehilangan maknanya.
"Kita tentu ingin pembangunan di daerah ini berjalan maju, infrastruktur bertambah, ekonomi tumbuh. Tapi ingatlah satu hal penting: jangan sampai kemajuan itu merusak lingkungan, karena pada akhirnya masyarakatlah yang akan menjadi korban paling besar. Jangan biarkan kemajuan kita hari ini menjadi bencana bagi masa depan anak cucu kita esok hari." Tutup Yusri dengan penuh harap.
Musibah di Matangnga dan wilayah lainnya adalah cermin nyata. Sudah saatnya pemerintah hadir bukan hanya sebagai penangan pasca bencana, tetapi sebagai pelindung alam yang tegas, agar air bah dan tanah longsor tidak lagi menjadi cerita duka yang berulang di Polewali Mandar.
Laporan. : Nadi

