![]() |
| Personil Polsek Binung bersama Damkar Polman, melakukan pemadaman kebakaran lahan di Kelurahan Amassangan, Kabupaten Polewali Mandar. (Foto : NAdi). |
PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Musim kemarau mulai membuat lahan di sejumlah wilayah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, semakin kering.
Di tengah kondisi tersebut, api kembali muncul dan membakar lahan perkebunan warga di Lingkungan Binuang 1, Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Sabtu (29/08/2026) malam.
Kepulan asap dan kobaran api terlihat dari arah depan Mapolsek Binuang sekitar pukul 18.00 Wita. Personel Polsek Binuang yang mengetahui kejadian tersebut langsung bergerak bersama masyarakat menuju lokasi.
Api membakar lahan perkebunan milik Ali (43), seorang petani setempat. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 50 are.
Medan dan kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi cepat menjalar. Warga bersama polisi kemudian melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan yang tersedia, termasuk alat penyemprot milik masyarakat.
Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Polman turut dikerahkan. Setelah berjibaku hampir dua jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 19.50 Wita.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa lahan kering di tengah musim kemarau dapat berubah menjadi titik rawan kebakaran hanya karena satu sumber api.
Kapolsek Binuang IPTU Rahman mengatakan, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Kondisi cuaca dan musim kemarau diduga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran, namun kepolisian tetap mendalami kemungkinan adanya kelalaian maupun unsur kesengajaan.
"Penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Kami tetap melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebabnya." Jelasnya.
Peristiwa di Amassangan bukan sekedar persoalan api yang berhasil dipadamkan. Di tengah kemarau, potensi kebakaran lahan perlu menjadi perhatian bersama karena api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas ke perkebunan, semak belukar maupun kawasan permukiman.
Terlebih, sebelumnya kebakaran lahan juga terjadi di wilayah lain di Polman. Kondisi vegetasi yang mengering membuat kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran meluas.
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam, TNI-Polri atau pemerintah.
Warga yang berada paling dekat dengan lahan justru memiliki peran penting untuk mengenali dan mencegah munculnya sumber api sejak dini.
Masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar selama kondisi kering dan angin cukup kencang.
Warga juga perlu memastikan puntung rokok, bara api, pembakaran sampah maupun sumber panas lainnya benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Kapolsek Binuang mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap atau titik api sekecil apa pun.
"Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila melihat titik api atau kepulan asap. Respons cepat sangat diperlukan agar api tidak meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar." Ujarnya.
Kebakaran di Amassangan akhirnya dapat dikendalikan berkat gerak cepat polisi, warga dan petugas pemadam. Tetapi bagi masyarakat Polman, yang lebih penting adalah memastikan kejadian serupa tidak terus berulang.
Satu titik api mungkin terlihat kecil. Namun di tengah kemarau, satu kelalaian dapat berubah menjadi kebakaran yang menghanguskan lahan, tanaman, bahkan mengancam permukiman.
Kini, menjaga Polman dari ancaman kebakaran bukan hanya tugas petugas. Kewaspadaan setiap warga adalah benteng pertama sebelum api membesar.
Laporan : Nadi/Sukriwandi
