PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, mulai menunjukkan skala yang patut diwaspadai.
Data Satgas Karhutla Sulbar mencatat, hingga 3 September 2026 terdapat 49 kejadian Karhutla di Polewali Mandar, dengan total lahan atau kebun terdampak mencapai 92,91 hektare.
Yang menjadi perhatian, dua kejadian terbaru dan terbesar masing-masing menghanguskan lebih dari 20 hektare lahan.
Kebakaran pertama terjadi di kawasan Dusun Tondo, Desa Pallis, yang kemudian meluas hingga Dusun Panuttungan, Desa Tamanggalle, Kecamatan Balanipa, pada 22 Agustus 2026.
Hasil pendataan dan pemetaan pascakebakaran mencatat luas lahan terdampak mencapai 22 hektare.
Sementara kebakaran berikutnya terjadi di Bukit Bungin-Bungin, Dusun Landi Pokki, Desa Baru, Kecamatan Luyo, pada 2 September 2026. Setelah dilakukan investigasi dan pemetaan pascakebakaran, luas lahan terdampak tercatat 20,88 hektare.
Angka tersebut jauh lebih besar dibanding perkiraan awal petugas di lapangan yang hanya sekitar 5 hektare.
![]() |
| Kejadian Kamis, 03 September 2026. Tenggelan, Kec. Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat 91353 Koordinat: 3.408653°S, 119.127615°E (Foto : Damkar Polman). |
Api Meluas, Lahan Produktif Ikut Terancam. Kebakaran di Desa Baru tidak hanya menyisakan lahan yang menghitam.
Api turut membakar kawasan perkebunan produktif milik masyarakat yang di dalamnya terdapat tanaman sawit, pohon produktif dan bibit tanaman.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Sekretaris Desa Luyo, Sulaeman, mengatakan lahan yang terdampak merupakan kawasan produktif yang selama ini dikelola masyarakat.
"Lahan yang terbakar merupakan kawasan perkebunan produktif yang dikelola masyarakat. Di dalamnya terdapat tanaman sawit, pohon produktif, dan bibit tanaman. Pemerintah desa bersama Satgas Karhutla melakukan verifikasi agar luas terdampak dan nilai kerugian dapat dicatat secara tepat." Kata Sulaeman.
Kondisi tersebut membuat Karhutla tidak lagi semata-mata persoalan kebakaran vegetasi.
Ketika api masuk ke lahan produktif, yang ikut terbakar adalah sumber penghidupan masyarakat.
![]() |
Kamis, 03 September 2026. Koordinasi di Luyo, Kec. Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat 91353 (Foto : Damkar Polman). |
Pallis Berulang Kali Terbakar. Ancaman Karhutla juga terlihat dari pola kejadian di Desa Pallis.
Dalam periode 5 Juli hingga 25 Agustus 2026, sedikitnya tujuh kejadian Karhutla tercatat terjadi di wilayah tersebut.
Kejadian berlangsung pada 5 Juli, 9 Agustus, 19 Agustus, 21 Agustus dan 25 Agustus, dengan dua kejadian tercatat pada tanggal terakhir.
Dari enam kejadian yang memiliki data luasan, akumulasi lahan terdampak sedikitnya mencapai 36 hektare.
Sementara satu kejadian pada 9 Agustus belum mencantumkan luas lahan terdampak. Artinya, luasan aktual yang terdampak Karhutla di Desa Pallis berpotensi lebih besar.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa penanganan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul.
Pola kebakaran berulang di lokasi tertentu membutuhkan pencegahan yang lebih kuat.
![]() |
| Lahan produktif milik warga, terdampak kebakaran lahan. (Foto : Nadi). |
Satgas Bergerak Cepat. Dalam kebakaran Pallis-Tamanggalle, dua unit armada Damkar Polman dikerahkan, masing-masing dari Pos Tinambung dan Pos Campalagian.
Petugas tiba sekitar lima menit setelah laporan diterima dan melakukan pemadaman serta pendinginan sekitar 40 menit.
Sementara dalam kebakaran di Desa Baru, lima unit armada dikerahkan, terdiri atas dua unit dari Pos Induk Polewali, satu unit Pos Campalagian, satu unit Pos Tinambung dan satu unit tangki air bantuan TNI Yon TP Keris Muda Mandar.
Tim gabungan tiba sekitar pukul 19.30 Wita setelah laporan diterima pukul 19.15 Wita. Penanganan selesai sekitar pukul 20.20 Wita.
Namun, petugas menghadapi tantangan berupa banyaknya bahan bakar kering di lahan akibat kondisi kemarau.
Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Polewali Mandar, Imran, S.IP., M.M., mengatakan luas kebakaran di dua lokasi tersebut harus menjadi perhatian bersama.
"Dua kejadian dengan luasan masing-masing lebih dari 20 hektare menunjukkan bahwa api di lahan kering dapat berkembang dengan sangat cepat dan melintasi batas wilayah desa." Ujar Imran.
Dia meminta masyarakat menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
![]() |
| Lahan produktif milik warga terancam terdampak kebakaran lahan. (Foto : Nadi). |
Data Bertambah, Kewaspadaan Harus Menguat. Pada 3 September 2026, Satgas Karhutla Polman melalui Damkar Polman bersama Bhabinkamtibmas Desa Luyo melakukan pendataan lapangan.
Tim melakukan pemetaan luas lahan, dokumentasi kondisi lapangan, verifikasi informasi dan pendalaman estimasi kerugian sebelum melakukan verifikasi bersama Pemerintah Desa Luyo.
Rekapitulasi juga menunjukkan bahwa Kecamatan Luyo sedikitnya telah mengalami lima kejadian Karhutla. Masing-masing dua kejadian di Desa Landi, satu di Desa Kanusuang dan dua di Desa Baru.
Angka-angka tersebut menunjukkan satu persoalan yang tidak bisa dipandang ringan.
Ketika total lahan terdampak sudah mencapai 92,91 hektare, persoalannya bukan lagi sekedar bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mencegah api berikutnya.
Satgas mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak meninggalkan sumber api di kawasan kebun maupun lahan kering.
Masyarakat juga diminta segera melapor kepada aparat desa atau layanan Pemadam Kebakaran apabila menemukan asap maupun titik api.
Sebab bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari kebun, satu titik api bukan hanya ancaman terhadap lahan, tetapi bisa menjadi ancaman terhadap sumber penghasilan mereka.
Laporan : Sukriwandi




