PIFAF 2017

Minggu, 05 November 2017


Pasangan Lansia Makan Sepering Dari Pemberian Warga
Pasangan Lansia Ini Perlihatkan KTP Kepada Wartawan
Kondisi Rumah Pasangan Lansia di Rea Timur Binuang
POLEWALITERKINI.NET - Masa tua adalah masa di mana para orang tua ingin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah mereka, menunggu anak cucu datang menengok dan bercerita.

Tetapi tidak demikian yang dialami sepasang kakek-nenek, Daeng Siga dan istrinya Daeng Lebang. Pasangan berusia 80 dan 81 tahun ini malah harus merasakan hidup mengandalkan belas kasih orang lain.

Bagaimana tidak sumber penghasilan mereka tidak ada sama sekali, sejak Daeng Siga sudah tidak mampu lagi bekerja mencari nafkah lantaran sakit termakan usia, sementara istrinya mengalami kebutaan karena didera penyakit kronis. hal ini membuat Daeng Siga harus menggendong istrinya saat mandi maupun BAB.

Pasangan lansia ini menetap di rumah panggung berukuran 2 kali 3 meter tanpa MCK di lokasi milik orang lain, di Desa Rea Timur, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Atau sebelum pos polisi rea timur (Sebelum pintu gerbang kota Polman di rea, sebelah kiri dari arah bawah ke atas, dekat pintu gerbang warga sekitar mengenalnya, karena rumah kakek nenek ini masuk ke kebun kebun).
Di masa mudanya Daeng Siga mengaku pernah berdagang di Makassar Sulsel, tetapi mengalami kebangkrutan sehingga menjual rumahnya kemudian hijrah ke Polman bekerja di tambak ikan milik Daeng Patompo mantan Wali Kota Makassar, dua sejoli ini menikah 60 tahun silam namun tidak dikaruniai anak.

"Kalau ada orang datang bawa nasi bungkus ke rumah saya bagi 2 sama istri, atau kita makan sepiring berdua, tapi jika tidak ada iya kita puasa saja." Ujar Daeng Siga.

Tak hanya itu, dinding rumah kayu milik Daeng Siga sudah lapuk termakan rayap, saat tidur pun hanya beralaskan tikar plastik, isi perabotan rumahnya tak ada sama sekali begitupun peralatan dapurnya yang tersisa hanya ada cerek lusuh, piring dan gelas masing masing satu pasang tanpa kompor.

"Tapi syukur Alhamdulilah, tetangga sebelah menyumbangkan listrik, rumah kami dipasangi kabel sehingga ada penerangan meski hanya satu lampu." Kata Daeng Siga.

Kakek yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Polman seumur hidup ini mengatakan, hingga saat ini masih menerima beras miskin (Raskin) pertiga bulan sekali dari kantor desa sebanyak 12 Kg dengan harga Rp. 2000 per kilo gram, namun untuk membeli raskin tersebut masih mengandalkan uluran tangan orang lain yang kadang memberinya uang.

"Kalau ada yang kasih lagi uang nak, dibeli itu Raskin, keluarga saya satu satunya ada di Maros, anak dari saudara, tapi jarang datang." Ujarnya.

Muhammad Arfah salah satu warga Binuang yang sering memberi kakek Daeng Siga makanan menjelaskan, contoh sedih dari getirnya hidup adalah pasangan kakek nenek lansia ini yang memperlihatkan bahwa mereka pantang mengemis walaupun sudah tak berdaya.

"Pasangan Daeng Siga dan Daeng Lebang sangat perlu dibantu, meski mereka sudah tak berkutik mereka malu mengemis di jalan." Serunya.

Camat Binuang, Budiati Bestari saat dihubungi via telepon selulernya menjelaskan, akan berkoordinasi dengan Kepala Desa Rea Timur supaya bisa mencari solusi meringankan beban lansia terlantar ini.

"Saya baru tahu itu dek, nanti saya sampaikan Pak Desa setempat." Jelasnya.

Laporan  :  Z Ramadhana.