Iklan

Niat Cari Sehat, Warga Polman Malah Hirup Asap, Pemerintah Jangan Tinggal Diam

Minggu, 11 Oktober 2026 | 17:00 WIB Last Updated 2026-10-11T09:00:26Z

Udara Pagi Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Diselimuti Asap, Warga Yang Berolahraga Pagi Merasa Terganggu. (Foto : FadliAnt/Sukriwandi).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Pagi seharusnya menjadi waktu yang nyaman untuk berjalan kaki, berolahraga, atau menghirup udara segar sebelum memulai aktivitas. Namun, suasana berbeda dirasakan warga Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, pada Minggu pagi (11/10/2026).


Kabut asap menyelimuti sejumlah kawasan. Di sepanjang jalan, pandangan terlihat berkabut, sementara sebagian pengendara memilih mengenakan masker saat melintas. Kondisi serupa juga terlihat di kawasan Stadion dan Sport Center Polewali, tempat warga biasanya berolahraga untuk menjaga kebugaran.


Pagi yang semestinya menyehatkan justru menghadirkan kekhawatiran, apakah udara yang dihirup masih aman bagi tubuh?


Amri, warga Darma yang rutin berolahraga di Sport Center Polewali, mengaku terganggu dengan kondisi tersebut. Dia datang untuk menjaga kesehatan, tetapi keberadaan asap membuatnya khawatir terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan.


"Ini udara yang kita hirup sangat buruk. Bahaya ini kalau begini. Niatnya mau sehat takutnya nanti justru malah sakit." Kata Amri.


Udara Pagi Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Diselimuti Asap, Warga Yang Berolahraga Pagi Merasa Terganggu. (Foto : FadliAnt/Sukriwandi).

Keluhan itu menggambarkan persoalan yang lebih luas. Ketika kabut asap hadir di ruang publik, warga bukan hanya kehilangan kenyamanan, tetapi juga membutuhkan informasi yang jelas tentang kondisi udara dan langkah perlindungan yang perlu dilakukan.


Ketika Olahraga Tak Lagi Memberi Rasa Aman. Kabut asap yang terlihat di jalan dan kawasan olahraga mengubah suasana aktivitas pagi. Bagi pengendara, jarak pandang yang terganggu menuntut kewaspadaan ekstra. 


Bagi warga yang berolahraga di luar ruangan, asap menimbulkan kekhawatiran karena aktivitas fisik membuat mereka bernapas lebih cepat dan menghirup udara lebih banyak.


Paparan asap kebakaran hutan dan lahan dapat membawa partikel halus serta berbagai polutan yang berisiko mengganggu kesehatan. Dampaknya dapat berupa iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memburuknya kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.


Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit tertentu termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.


Karena itu, kabut asap tidak semestinya dipandang sekedar gangguan pemandangan. Ketika kondisi ini meluas, informasi mengenai kualitas udara dan imbauan kesehatan menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat dapat menentukan apakah aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi.


Kabut Asap di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Ganggu Pengendara dan Olahragawan, Warga Meminta Perlindungan Pemerintah. (Foto : FadliAnt/Sukriwandi).

Asap Datang, Pemerintah Jangan Hanya Menunggu Keluhan. Kabut asap yang menyelimuti Polman diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di wilayah lain, termasuk Kalimantan. Namun, sumber dan jalur pergerakan asap tersebut tetap perlu dipastikan melalui informasi resmi dari instansi berwenang.


Di tengah ketidakpastian itu, satu hal tidak perlu menunggu, langkah perlindungan terhadap masyarakat.


Pemerintah daerah melalui dinas terkait perlu berkoordinasi dengan instansi lingkungan hidup, kesehatan, kebencanaan, dan BMKG untuk memeriksa kondisi kualitas udara serta menyampaikan informasi yang mudah dipahami warga.


Apabila kualitas udara memang memburuk, masyarakat membutuhkan arahan yang jelas, kapan aktivitas luar ruangan sebaiknya dibatasi, siapa yang perlu lebih waspada, kapan masker perlu digunakan, dan ke mana harus mencari pertolongan apabila mengalami gangguan pernapasan.


Pembagian masker kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama kelompok rentan dan warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, juga dapat dipertimbangkan sesuai hasil penilaian petugas kesehatan. Namun, masker bukan pengganti upaya mengurangi paparan asap dan bukan semua jenis masker mampu menyaring partikel halus secara efektif.


Kabut Asap di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Ganggu Pengendara dan Olahragawan, Warga Meminta Perlindungan Pemerintah. (Foto : FadliAnt/Sukriwandi).


Di sinilah pemerintah diuji. Bukan hanya dalam merespons ketika warga mengeluh, tetapi juga dalam menyediakan informasi, melakukan pemantauan, dan mengambil langkah pencegahan sebelum gangguan kesehatan meluas.


Warga Berhak Tahu Udara yang Mereka Hirup. Harapan masyarakat agar pemerintah segera menangani persoalan kabut asap patut menjadi perhatian. Warga juga meminta dinas terkait turun memberikan sosialisasi mengenai bahaya paparan asap dan membagikan masker.


Permintaan tersebut bukan sekedar soal fasilitas. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kondisi yang mereka alami dipantau dan bahwa ada panduan yang dapat dijadikan pegangan.


Pemerintah juga perlu menjelaskan hasil pemantauan kualitas udara secara terbuka, termasuk apakah kondisinya masuk kategori baik, sedang, tidak sehat, atau kategori lainnya berdasarkan pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan.


Tanpa data tersebut, warga berisiko hanya mengandalkan penglihatan dan perasaan untuk menilai bahaya. Padahal, tingkat pencemaran udara tidak selalu dapat diketahui hanya dari seberapa tebal asap yang terlihat.


Sementara itu, warga perlu mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika asap terasa pekat, menutup pintu dan jendela apabila kondisi di luar lebih buruk, serta mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya.


Kabut Asap di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Ganggu Pengendara dan Olahragawan, Warga Meminta Perlindungan Pemerintah. (Foto : FadliAnt/Sukriwandi).

Jangan Tunggu Ada Korban Baru Bergerak. Kabut asap di Polman menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak selalu berhenti di wilayah tempat kebakaran terjadi. Dampaknya dapat menjalar ke daerah lain dan mengganggu kehidupan masyarakat yang jauh dari sumber api.


Karena itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan kerja lintas wilayah, sementara pemerintah daerah yang terdampak tetap memiliki peran penting dalam melindungi warganya.


Warga yang datang ke Sport Center untuk menjaga kebugaran tidak seharusnya dibiarkan menebak-nebak apakah udara yang mereka hirup aman. Pengendara pun membutuhkan kondisi yang memungkinkan mereka melintas dengan pandangan yang cukup jelas.


Pemerintah perlu bergerak berdasarkan data, menyampaikan informasi secara terbuka, dan mengambil langkah perlindungan sesuai tingkat risiko.


Sebab, ketika warga mulai takut menghirup udara pagi, persoalannya bukan lagi sekedar kabut di langit. Itu adalah peringatan bahwa kesehatan masyarakat membutuhkan perhatian segera.


Jangan sampai masyarakat baru mendapat perhatian setelah gangguan kesehatan bermunculan. Perlindungan seharusnya hadir sejak risiko terdeteksi, bukan setelah dampaknya menjadi lebih besar.


Laporan : FadliAnt/Sukriwandi 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Niat Cari Sehat, Warga Polman Malah Hirup Asap, Pemerintah Jangan Tinggal Diam

Trending Now

Iklan

iklan