Iklan

Berkali-kali Dibersihkan, Sampah Kembali Menumpuk, DLHK Polman Ingatkan Pedagang

Jumat, 09 Oktober 2026 | 16:59 WIB Last Updated 2026-10-09T09:00:01Z

Sampah Pasar Menumpuk di Tepi Laut, Pemerintah Bergerak, Kesadaran Warga & Pedagang Pasar Polewali Jadi Kunci. (Foto : FadliAnt/Nadi).

PolewaliTerkini.Net - POLMAN - Sampah yang menumpuk di tepi laut bukan sekedar persoalan pemandangan yang mengganggu.


Ketika sisa aktivitas pasar dibiarkan berhari-hari di dekat pantai, lingkungan pesisir dan ekosistem laut ikut menghadapi risiko pencemaran.


Kondisi tersebut kembali ditemukan di bagian belakang Pasar Baru Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. 


Tumpukan sampah dalam puluhan karung yang lama dibiarkan di dekat pantai akhirnya diangkut oleh pasukan oranye, sebutan bagi petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Polman.


Dalam kegiatan tersebut, DLHK berkolaborasi dengan Pemerintah Kecamatan Polewali, Pemerintah Kelurahan Wattang, serta pengelola pasar.


Sekilas, tumpukan sampah itu tidak mudah terlihat oleh pengunjung karena berada di bagian belakang pasar dan terlindungi lapak-lapak pedagang. Namun, di balik lapak tersebut, sampah terus menumpuk hingga mencapai sekitar 4 ton.


Sebagian besar sampah berupa limbah organik, seperti sisa sayuran, sementara sebagian lainnya merupakan sampah plastik.


Sampah yang telah dikemas dalam karung itu kemudian diangkut menggunakan dua unit truk sampah untuk dibawa ke tempat pengelolaan sampah terpadu.


Dibersihkan Berkali-kali, Kesadaran Harus Mengikuti. Kepala DLHK Polewali Mandar, Syarifuddin Wahab, mengatakan pengangkutan tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan pembersihan sampah di kawasan pesisir pada pekan sebelumnya.


"Minggu lalu kita sudah bersihkan sampah di pinggir laut, nah yang sekarang ini kita angkut sampah yang ada didalam karung ini yang berada di belakang pasar baru." Kata Syarifuddin.


Pembersihan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menangani persoalan sampah di kawasan Pasar Baru. Namun, pengangkutan berton-ton sampah juga menyisakan pertanyaan mendasar.


Sampai kapan petugas harus terus mengangkut sampah yang seharusnya dikelola dengan benar sejak dari sumbernya?


Bagi DLHK, persoalan sampah tidak akan selesai apabila kegiatan kebersihan hanya mengandalkan tenaga petugas, sementara kebiasaan membuang dan menumpuk sampah sembarangan tidak berubah.


Syarifuddin pun meminta pengelola pasar turut mengingatkan pedagang agar tidak membuang atau menumpuk sampah sembarangan, terlebih di kawasan pantai.


Dia mengarahkan agar sampah dibuang ke lokasi yang telah disediakan, yakni di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), yang memiliki dua unit bak kontainer sampah.


DLHK juga merencanakan penambahan dua unit kontainer di sekitar Pasar Baru Polewali untuk memudahkan pengelolaan sampah.


"Sudah berkali-kali kami himbau kepada masyarakat, jika hanya pemerintah yang bergerak mengatasi sampah dan tidak didukung oleh kesadaran masyarakat itu sendiri pasti polemik sampah ini tidak akan bisa tuntas. Jadi mari kita sadar diri dan mencintai kebersihan lingkungan sekitar." Pesannya.


Jangan Jadikan Laut Tempat Pembuangan. Persoalan sampah di belakang pasar memperlihatkan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya soal tersedianya petugas dan armada pengangkut. 


Kebiasaan setiap orang dalam menangani sampah juga menentukan apakah lingkungan tetap bersih atau kembali tercemar.


Sisa sayuran memang mudah terurai dibandingkan banyak jenis sampah lainnya, tetapi bukan berarti boleh dibiarkan menumpuk di sembarang tempat.


Sementara sampah plastik dapat bertahan lama di lingkungan dan berpotensi terbawa ke perairan.


Karena itu, pedagang, pengelola pasar, dan masyarakat perlu memastikan sampah dikumpulkan pada tempatnya, tidak ditinggalkan berhari-hari di belakang lapak, dan tidak dibuang ke laut maupun saluran air.


Pemerintah Kecamatan Polewali turut mendorong keterlibatan masyarakat untuk memutus kebiasaan tersebut.


Camat Polewali, Masrullah, mengatakan pihaknya telah menyampaikan kepada Pemerintah Kelurahan Wattang agar aktif berkoordinasi dengan pengelola pasar dan masyarakat untuk mencegah pembuangan sampah ke laut.


Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat mencemari lingkungan sekaligus merusak ekosistem laut di sekitar kawasan pesisir.


Masrullah juga mengimbau warga yang membutuhkan layanan pengangkutan sampah agar menghubungi nomor tim pemantauan atau petugas pengangkut sampah DLHK, maupun berkoordinasi dengan pemerintah lingkungan dan kelurahan masing-masing.


"Masalah ini harus berkolaborasi baik dengan seluruh elemen masyarakat, jangan lagi membuang sampah sembarang." Pungkasnya.


Kebersihan Tidak Berakhir Setelah Truk Pergi. Empat ton sampah yang diangkut dari belakang Pasar Baru menunjukkan besarnya pekerjaan yang harus ditangani. 


Namun, ukuran keberhasilan sesungguhnya bukan semata-mata berapa banyak sampah yang berhasil dibawa pergi oleh truk.


Keberhasilan juga ditentukan oleh apakah tumpukan serupa tidak kembali muncul, apakah pedagang disiplin membuang sampah pada tempatnya, dan apakah pengelola pasar bersama pemerintah memastikan fasilitas kebersihan dimanfaatkan dengan baik.


Penyediaan kontainer dan layanan pengangkutan perlu berjalan beriringan dengan pengawasan, edukasi, serta kebiasaan masyarakat yang bertanggung jawab.


Sebab, pasukan oranye bisa mengangkut sampah yang sudah menumpuk, tetapi hanya kesadaran bersama yang bisa mencegahnya menumpuk kembali.


Menjaga pantai tetap bersih bukan hanya tugas pemerintah. Itu juga tanggung jawab setiap pedagang, pengelola pasar, dan warga yang menggantungkan kehidupan pada lingkungan yang sehat.


Laporan : FadliAnt/Nadi

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Berkali-kali Dibersihkan, Sampah Kembali Menumpuk, DLHK Polman Ingatkan Pedagang

Trending Now

Iklan

iklan